Kamis, 05 Desember 2019

Gagal Piknik? Coba deh 7 Inspirasi Kegiatan Anti Membosankan Saat Liburan Ini. Pasti Ketagihan!




Oleh : Meiftia Hartono

Hai hai hai ibu dan calon ibu pembelajar. Wah tidak terasa ya kita sudah sampai di penghujung tahun 2019. Untuk ibu-ibu pembelajar yang memiliki putra putri yang sudah bersekolah, tentunya akhir tahun seperti ini sangat terasa ya semangat liburannya. Selain libur Natal dan Tahun Baru, eh bertepatan pula dengan liburan akhir semester sesuai kalender akademik. Tentunya masa-masa seperti ini ditunggu sangat ditunggu, bahkan orang tua bekerja rela deh mengambil cuti agar bisa berlibur dengan keluarga. Mumpung anak-anak libur sekolah, ya kan?
Tapi sayangnya, terkadang rencana liburan terkendala dengan jadwal cuti kerja orang tua ini. Sehingga impian untuk berlibur keluar kota atau luar negeri jadi tertunda dulu deh gara-gara orang tua tidak bisa cuti. Eits jangan kecewa dulu ya, liburan di rumah saja bukan berarti akan auto membosankan. Justru peran ibu-ibu pembelajar seperti kita yang harus cerdas dan kreatif menciptakan kegiatan berfaedah dan harus menyenangkan pastinya.
Apa saja sih kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh kita dan anak-anak selama liburan, yuks kepoin di sini.
1. Berpetualang menyusuri kota kesayangan dengan kendaraan umum.
Karena kesibukan kita, kadang kita belum tahu bahwa kota yang kita tinggali bisa memiliki berbagai tempat menarik yang patut dijelajahi. Tidak hanya tempat wisata umum, tapi kadang nyempil tempat bersejarah atau destinasi unik seperti rumah ibadah kuno, pasar yang menyediakan makanan khas daerah, perpustakaan, dan lain sebagainya. Nah di sini perlu kelihaian ibu pembelajar untuk Googling ya. Lalu tentukan destinasi petualangan keluarga kita. Bila perlu, buat peta agar serasa menjelajah betulan.
Agar lebih menantang, persiapkan buah hati kita untuk pergi ke sana menggunakan kendaraan umum. Tentukan trayek yang akan ditempuh dan jangan lupa persiapan ongkos. Biar tambah greget, biarkan anak kita yang berinteraksi dengan supir atau kondektur atau bahkan jika naik kereta listrik atau kereta lokal daerah, ananda yang antre membeli tiketnya.
Jadi selain berwisata, ananda pun bisa belajar untuk lebih berani dan mandiri menggunakan alat transportasi publik. Nilai plus lagi jika mereka bisa membaca peta dan rute yang sudah kita persiapkan.
Jangan lupa utamakan keselamatan dan pilih kendaraan umum yang bebas atau minim dari asap rokok ya.
2. Playdate bertema literatur.
Nah kegiatan ini bisa dilakukan bersama teman-teman ananda yang juga tidak bisa liburan kemana-mana.
Persiapkan untuk mereka sebuah pesta buku dan dongeng. Sediakan tempat yang nyaman seperti karpet tebal dengan bantal-bantal besar nan empuk. Jika kita tidak bisa mendongeng untuk mereka, bisa juga mendatangkan pendongeng profesional untuk menghibur mereka.
Agar lebih seru, dekorasi tempatnya seperti pesta sungguhan dengan dekorasi serba literatur dan aksara. Tentunya dilengkapi cemilan yang lezat. Tantang ananda dan teman-teman untuk bergantian membaca buku dan mendongeng untuk yang lain.
Lalu tidak ada salahnya tukar kado berisikan buku atau majalah kesayangan atau kita menyiapkan doorprize bertema literatur yang membuat suasana tambah semarak. Bisa tambah koleksi buku ananda sekaligus berbagi juga kan?
Wah seru dan edukatif!
3. Mendekorasi ulang rumah dengan hasil craft karya sendiri.
Nah ide liburan yang ini bakal cocok banget nih untuk ibu pembelajar dan ananda yang memiliki jiwa seni dan suka crafty. Tahun baru dengan suasana rumah baru dong. Ajak ananda untuk mendekor ulang rumah atau kamarnya sendiri. Selain mengatur ulang posisi furnitur, bisa juga lho menambahkan pernak-pernik hasil karya sendiri.
Ibu pembelajar bisa mengulik berbagai situs, blog, dan media sosial bertema craft untuk anak. Lalu menyiapkan bahan-bahannya. Dampingi anak-anak saat berkreasi. Kita bisa membuat lampu tidur warna-warni atau hiasan dinding untuk kamar ananda, serta banyak contoh kreasi lainnya.
Tempat lain dalam rumah juga bisa menjadi galeri seni kita dan ananda. Sediakan satu bidang dinding di rumah misalnya di halaman belakang untuk menjadi kanvas ananda. Sediakan cat tembok warna-warni dan bebaskan ananda untuk berkreasi mengecat tembok sesuai dengan imajinasi mereka. Selain makin mengasah kecerdasan seninya, berguna pula untuk mengolah motoriknya. Tapi tetap pilih cat yang aman untuk anak ya, terutama yang ramah lingkungan dan odorless.
4. Bioskop Rumahan.
Meskipun tersedia bioskop di kota kita namun bisa jadi saat liburan tidak tersedia film dengan klasifikasi usia anak-anak atau ternyata ananda adalah anak yang tidak suka dengan suasana bioskop yang gelap, dingin, berisik, dan pastinya sangat ramai saat liburan.
Ibu pembelajar bisa menyiapkan alternatif tempat tontonan di rumah yang pastinya lebih nyaman untuk buah hati kita. Jika tidak memiliki perangkat home theatre, kalau perlu, kita bisa sewa proyektor dan perangkat audio profesional agar suasana nonton lebih greget dan tidak kalah serunya dengan bioskop.
Pilih film-film ber-genre keluarga dan klasifikasi usia yang memang untuk anak-anak. Jangan lupa siapkan camilan super enak dan bergizi dan posisikan layar agar mata anak nyaman saat menonton. Ananda bisa berbaring di kasur dengan bantal-bantal empuk sambil berpelukan dengan anggota keluarga yang lain. Hangat, menyenangkan, dan penuh cinta pastinya.
Setelah nonton, ajak ananda diskusi tentang isi film. Bahkan kita bisa berkreasi untuk membuat plot baru dari film yang sudah ditonton dan berakting bersama anak mempraktekan adegan-adegan rekaan kita tersebut.
5. Kemah mini dan ceria bersama alam.
Untuk keluarga yang memiliki halaman luas yang bisa dipakai untuk mendirikan tenda, tentunya hal kegiatan ini lebih mudah untuk terwujud. Tapi bagaimana jika kita hanya tinggal di rumah dengan halaman terbatas atau bahkan tidak ada lahan sama sekali?
Tetap bisa kok mendirikan tenda di dalam rumah. Bisa pakai tenda mini untuk anak dan dengan dekorasi seolah-olah sedang berkemah sungguhan. Jika malam tiba, matikan seluruh lampu ruangan dan hanya mengandalkan penerangan dari senter atau lampu emergency (sangat tidak disarankan menggunakan lilin). Kita bisa tidur bersama ananda dalam tenda sambil mendongeng kisah petualangan alam yang bisa menambah imajinasi anak-anak.
Sedangkan untuk mengasah kecerdasan naturalis mereka, buat rencana proyek bertanam tanaman minimalis seperti bunga atau bumbu dapur. Sediakan bibit tanaman dan pot warna warni (ini juga bisa berupa hasil kreasi mengecat ananda). Ajari anak-anak kita mengenal jenis-jenis bibit dan buat proyek menanam bibit-bibit tersebut. Ini bisa jadi proyek jangka panjang lho bahkan sampai liburan usai. Coba deh nanti lihat kebahagiaan yang terpancar di wajah ananda saat melihat tanaman-tanaman yang mereka rawat mulai tumbuh dan berkembang, apalagi bisa sampai berbuah dan petik hasilnya. Wow!
6. Sehat jiwa raga dengan olahraga bersama keluarga.
Selama liburan, kegiatan fisik anak-anak kadang tidak sebanyak biasanya seperti saat mereka di sekolah. Untuk tetap menjaga fisik ananda, kita bikin yuk rancangan kegiatan olahraga yang menyenangkan. Tapi tentunya melibatkan seluruh anggota keluarga.
Bisa diawali dengan yang ringan seperti jogging keliling komplek rumah atau bersepeda. Tapi tidak ada salahnya juga mencoba senam irama bersama anak menggunakan video senam yang bisa didapatkan di YouTube. Pilih yang tidak terlalu berat buat anak ya.
Ingin lebih kreatif dan inovatif? Susun dan siapkan kompetisi fun games antar anggota keluarga dengan menggunakan barang-barang yang ada di rumah. Misalnya lomba adu main engklek di ubin teras rumah, lomba memindahkan biji kacang ijo menggunakan sendok atau sumpit sambil berlari, dan lain sebagainya. Inspirasi jenis-jenis fun games ringan ini bisa di-Googling, buanyaaaaak banget! Pilihlah yang aman untuk fisik anak dan mudah menyiapkan atau mendapatkan perlengkapannya.
Kegiatan ini bisa juga dilakukan di playground atau lapangan dekat rumah. Jika ada anak-anak tetangga yang tertarik untuk ikut, kenapa tidak saja untuk bergabung? The more the merrier!
Jangan lupa siapkan hadiah untuk para pemenang agar lebih meriah!
7. Cooking and baking then selling!
Mengisi liburan sambil mengasah life skill anak jamak sekali dilakukan. Nah ibu pembelajar bisa melibatkan anak untuk menyiapkan makan sehari-hari. Bisa dimulai dengan cara melibatkan mereka dalam penyusunan menu harian atau pekanan, mengajak mereka berbelanja bahan-bahannya, dan biarkan mereka untuk ikut berjibaku di dapur! Meskipun dapur lebih berantakan dan durasi masak jadi lebih lama, tapi bisa menjadi kenangan yang luar biasa buat anak. Apalagi jika dilakukan dengan diiringi canda tawa. Sehingga kegiatan memasak menjadi ceria dan tidak membosankan. Tetap perhatikan keselamatan ananda saat menggunakan pisau  dan kompor ya.
Alternatif lain agar anak-anak makin menyukai kegiatan masak ini, biasanya mereka lebih tertarik untuk memasak kue. Karena hasil akhirnya berupa kue-kue yang memanjakan lidah mereka. Bagaimana jika ibu pembelajar bukan tipe ibu yang suka memasak kue, nah justru ini saatnya belajar menyenangkan bersama ananda. Jikapun terkendala dengan alat-alat yang tidak tersedia, bisa juga diakali dengan membeli kue bolu, donat atau cupcake polos. Kita tinggal membeli perlengkapan menghias kue.
Biarkan anak berkreasi menghias kue sesuai imajinasi mereka. Sebagai nilai tambah, kue dengan rasa dan penampilan terbaik bisa juga dijual ke anggota keluarga lain seperti ayah, kakek, nenek, om, tante, sepupu bahkan tetangga! Ananda pasti merasa lebih bahagia ketika karya mereka diapresiasi sekaligus mereka bisa belajar jual beli sederhana. Uang hasil penjualan dapat ditabung dan menjadi hak ananda, pasti deh mereka ketagihan untuk memproduksi kue dan berjualan lagi hihihi.
.
.
.
.
.
.
.
Itulah 7 alternatif kegiatan saat liburan yang bisa dilakukan bersama ananda jika tidak bisa bepergian jauh.
Ingatlah untuk selalu diskusikan dan rencanakan bersama kegiatan liburan di rumah bersama anggota keluarga lainnya. Bisa jadi ide anak-anak lebih kreatif dan memberi input serta perspektif baru untuk ibu pembelajar saat mempersiapkan kegiatan-kegiatan tersebut.
Jangan lupa untuk dilakukan dengan bahagia. Anak-anak bisa lebih berbahagia mengenang liburan mereka ketika ibu pembelajar menemani mereka dengan bahagia pula. Getaran positif ini akan menular dan menumbuhkan semangat anak-anak. Jangan kecewakan mereka dengan kegiatan yang justru membosankan karena kita setengah hati menyiapkannya.
Berlibur itu tidak hanya identik dengan berpesiar, tapi tentang bagaimana kita mengelola waktu libur tersebut agar menjadi waktu berkualitas untuk mengisi tangki cinta dan memenuhi memori masa kanak-kanak ananda sekaligus mengasah life skill mereka.
Untuk mencapai semua itu dimulai dari kita yuk ibu pembelajar, jangan lupa berbahagia dan mempersiapkan segalanya dengan penuh cinta untuk ananda dan anggota keluarga lainnya. Selamat mencoba!
.
.
.
Inspirator: kegiatan liburan keluarga Fajarsyah oleh Ibun Meiftia, Lyla, Ican, dan Ayah.

Senin, 28 Oktober 2019

Tips Mengenalkan Cerdas Financial Pada Anak

Cerdas Financial pada Anak
Oleh : Risdawati
Member Ibu Profesional Banten



Pic by google

Memperkenalkan tentang pengelolaan keuangan pada anak sangatlah penting, karena kebiasaan dan perilaku pada orang dewasa terbentuk sejak kanak-kanak, terkadang tanpa disadari orang tua memiliki andil dalam membentuk pribadi anak dengan dalih kasih sayang, sehingga anak tidak bisa mengelola keuangan dengan baik.

Kapan anak dikenalkan dengan uang?
Ketika anak sudah memiliki keinginan tentang sesuatu hal yang membutuhkan alat tukar berupa uang, yaitu sekitar usia 2-3 tahun.

Apa yang harus di kenalkan:
1. Untuk memiliki apa yang kita mau perlu pertukaran dan alat tukarnya berupa uang.
Contohnya: memperkenalkan uang logam dan kertas, ikut serta saat berbelanja kebutuhan masak (sayur mayur) di pasar.
2. Untuk mendapatkan uang kita butuh usaha salah satu usaha untuk mendapatkan uang adalah bekerja di kantor seperti ayah, berjualan, dokter, polisi dan lainnya.
3. Ketika kita ingin sesuatu maka perlu perjuangan untuk mendapatkannya, caranya dengan menyimpan uang kita untuk tabungan.
4. Menahan keinginan yang kita mau, karena bisa jadi yang kita mau itu tidak kita kita butuhkan.
Contohnya: membiasakan makan di rumah dan jika bepergian jauh selalu membawa bekal dari rumah, karena makan di restoran itu keinginan dan kebutuhan itu makanan dari rumah yang dimasak dengan doa dan kasih sayang seorang ibu.
Ketika usia berapa anak diperkenalkan dengan perbankan.Tergantung kebutuhan anak dan orang tuanya, kebetulan saya setiap bulan menabung di bank dan selalu mengikutsertakan anak-anak.

Dan saat usia kakak 8 tahun, di salah satu bank pemerintah ada promosi kartu ATM anak yang bertuliskan nama anak sendiri, melihat hal itu kakak langsung minta dibuatkan buku tabungan, dan secara otomatis adiknya yang usia 6 tahun ikutan juga pengenemiliki buku tabungan dan kebetulan adik sudah bisa baca dan menulis, akhirnya mulailah mereka mengisi kertas setoran dan mengantri di teller waktu itu tepat pada tanggal 27 Desember 2011. Buku tabungan pertama dimiliki anak-anak.

Darimana sumber dana anak untuk menabung di bank, selain dari sisa uang saku?

1. Kakak hobi makan, setiap yang diliat pasti mau dan alhamdulillah ada aktivitas jual beli warung di rumah, biasanya kakak akan menjual mainan anak-anak yang kami beli dari toko grosir mainan atau jajanan anak-anak (puding, spageti) kebetulan kakak suka dengan kuliner jadi setiap kakak minta jajanan di luar maka saya kan bikin di rumah sekalian mengajak kakak untuk mendapatkan uang, biasanya kakak dan adik akan pamer kalau kami jualan jajanan sehat  dari keuntungan itu kakak memiliki uang untuk tabungan. Kebetulan kami membuka warung di rumah untuk melatih anak-anak berinteraksi sosial dengan tetangga, tentang bagaimana adab berkomunikasi dengan anak lebih kecil, seumuran, atau orang tua. Sekarang kakak mendapat tambahan baru uang tabungan dari mengajar anak SD belajar iqro dan tahfidz juz 30 di tempat bimbel ibu dan saat ini ada tambahan dana mengajarkan teman sekolahnya SMA nya bermain musik gitar, serta membantu temannya yang butuh gitar kakak yang akan merekomendasikan jenis gitar dan mengambil keuntungan dari penjualan gitar tersebut.

2. Adek suka menggambar dan mewarnai sejak usia 3 tahun, dan ini terus sampai akhirnya ayah memprint gambar hasil download untuk ade warnai, ternyata beberapa teman SD dan rumah banyak yang mau, akhirnya ade menggandakan gambar hasil print ayah dengan harga Rp1000/3pcs gambar, jika gambar sudah diwarnai maka harganya menjadi Rp 2000/pc. Itu terus berlanjut sampai sekarang ade SMP selalu ada aja pesanan untuk gambar atau gambar plus mewarnainya. Dan baru beberapa hari lalu adek jadi team pemasaran tas jinjing dan kaos jualan temannya, alhamdulillah sudah bisa memiliki tas, kaos kaki dan uang dari hasil memasarkan produk teman melalui medsos, tanpa harus modal stok barang dan uang. Selain itu adek juga membantu ibu mengajar anak - anak TK dan SD, kebetulan ibu membuka bimbel di rumah jadi setiap bulan menerima uang kompensasi dari ibu.

3. Diberikan uang tambahan dari kami, jika dengan sukarela membantu pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, bahkam menyetrika pakaian anggota keluarga yang lain.Tujuannya adalah untuk menumbuhkan empati dan menghargai sebuah kerja keras dan usaha.

Bagaimana cara mengajarkan pengelolaan uang pada anak?
Mulailah dengan memberikan uang saku harian anak, jangan lupa biasakan sarapan dan membawa bekal anak saat sekolah, supaya anak lebih bijak dalam menentukan mana keinginan dan kebutuhan. Bila sudah bisa menggunakan dengan bijak, mulai memberikan uang saku mingguan untuk meningkatkan tanggung jawab anak dalam mengelola keuangannya.

Alhamdulillah anak-anak diberikan uang saku mingguan atas dasar permintaan anak-anak, saat ini kakak kelas 10 dan ade kelas 8, alasannya karena khawatir belum bisa menahan keinginan. Dan tetap melakukan sarapan pagi dan membawa bekal makan siang buat di sekolah, ibu yang menyiapkannya di pagi hari.

Ada cerita yang bikin kami terharu dan bangga pada anak-anak, pada saat kami bertanya pada anak-anak. Kira - Kira saat liburan semester nanti mau liburan kemana? 

Saya sebagai ibu spontan mengusulkan ke jogja dan ayah mengusulkan Singapura untuk mengenalkan cara pembuatan paspor dan visa pada anak-anak, namun anak-anak menjawab kenapa harus ke jogja dan Singapura, emangnya ada dalam rukun islam kita. Bukannya rukun islam itu merupakan dasar dalam menjalankan hidup. Kenapa nggak ke baitullah saja tujuan liburan kita, yaitu liburan untuk ibadah. Sama juga ada perizinan membuat paspor dan visa kan? Tanya kakak pada kami. Teguran itu benar-benar sampai ke hati kami, anak-anak sudah bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Ibadah adalah kebutuhan kita yaitu Baitullah dan jalan-jalan merupakan keinginan.

Terima kasih anak-anakku telah mengingatkan kami saat khilaf, semoga selalu menjadi anak sholeh dan sholehah.

Jumat, 25 Oktober 2019

Metode Pengelolaan Anggaran Keuangan Keluarga


Oleh : Annisa HD

google.com


Braak...!
Suara menutup pintu setengah dibanting. Dini tertegun. Mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.

Ia bergegas lari ke kamar menangis secara diam diam. Tak kuasa ia berlama-lama lama tuk menunggu keberangkatan suaminya bekerja. Untung putrinya sedang berangkat sekolah jadi tak melihat adegan tadi .

Masih segar dalam ingatannya tadi ketika suaminya berkata, "Masa uangnya sudah habis? Dikemanakan  uangnya? Belanja apa saja sih kamu?"

Mungkin adegan tadi banyak yang mengalaminya walaupun berbeda posisi dan tak semirip cerita di atas. Intinya berhubungan dengan Pengelolaan Keuangan Dalam Keluarga.

Sebelum berbicara mengenai Pengelolaan Anggaran Rumah Tangga tentunya yang perlu disepakati bersama adalah tujuan membuat anggaran. Mungkin ada beberapa dari kita yang sudah pernah mengalami hal serupa yang seperti Bu Dini alami.  Nah, tidak mungkin permasalahan rumah tangga yang sensitif perihal keuangan, kita biarkan berlarut-larut.

Untuk itulah, kita harus terlebih dahulu mengetahui akar permasalan khususnya perihal pengelolaan finansial keluarga kita. Anggaran tiap keluarga pasti berbeda-beda tergantung pada visi, misi dan prioritas dari masing-masing keluarga dan tak kalah penting pastikan uang / pendapatan yang masuk halal.

Pengelolaan keuangan dalam rumah tangga sangat penting untuk operasional rumah tangga. 

" Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap ( memasuki) masjid.Makan dan minumlah & janganlah berlebihan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang yang berlebihan." (Q.S.Al- A'raf: 31).

Agar tidak termasuk definisi orang yang berlebih-lebihan, jadi salah satu dari sekian alasan pentingnya Pengelolaan keuangan.


Hal - hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan yaitu:

1. Mencatat penghasilan/ pendapatan

Setiap penghasilan harus dicatat untuk memudahkan pengaturan keuangan. yang termasuk penghasilan / pendapatan ini bisa dari gaji pokok, hasil bisnis sampingan, tunjangan, Bonus,dll.

2. Membuat rencana pengeluaran bulanan

3. Membuat rencana pengeluaran tahunan

Setelah itu baru kita pilih rumus/ teknik mana yang lebih cocok dengan keluarga masing-masing.

Berikut adalah 5 Rumus /Teknik atur keuangan

1. Metode 50/30/20

50% 👉 pengeluaran tetap bulanan
(seperti: infak, sedekah/zakat, makan, listrik,iuran sampah, SPP sekolah anak, tempat tinggal,    transportasi, dll).

30% = Sesuatu yang penting tapi tak mendesak / tak terlalu penting
( Beli pakaian, jalan-jalan , internet,perlengkapan rumah tangga).

20% = Masa Depan
( Menabung, biaya tak terduga, hadiah,dll).

2. Metode simpel
Caranya : Bagi 2 pendapatannya, yaitu untuk pengeluaran permanen/ tetap dan kebutuhan lain.

3. Metode Anggaran Dasar
Hampir sama dengan cara metode ke 2, hanya di sini sudah ditulis lebih rinci dibanding di cara ke 2.

4. Metode 40:30:20:10
Dengan metode ini , pendapatan dibagi:
40% 👉 Untuk biaya hidup dan pengeluaran rutin.
30%👉Untuk bayar cicilan dan tabungan dana darurat.
20%👉 Untuk dana sosial, sedekah, infak,zakat.
10% 👉Untuk investasi.

5. Metode 1-1-1
Metode ini dilatar belakangi oleh sebuah kisah seorang sahabat Nabi yang datang kepada  Nabi Muhammad SAW terkait finansialnya. Dan nasihat itu pula yang diikuti oleh Salman Al Farisi. Ceritanya, ketika ia mendapat penghasilan 3 dirham, ia membaginya menjadi 3. 1 dirham untuk keperluan keluarga/ kebutuhan sehari-hari , 1 dirham disedekahkan, 1 dirham sebagai modalnya untuk usaha kembali.

Apa yang dilakukan Salman Alfarisi sungguh luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya.

Namun kembali lagi, silakan pilih metode/ teknik yang dirasa paling tepat , tentunya setelah dimusyawarahkan bersama dengan pasangan. Atau mungkin pakai metode yang lainnya? Silakan saja.

Sekian dari kami. Semoga info hari ini bermanfaat untuk kita semua.

Terimakasih
Wassalamu'alaikum.Wr.Wb

Senin, 30 September 2019

Keseruan Konferensi Ibu Profesional 2019

Konferensi Ibu Profesional



Asa bangga dan haru masih membuncah karena diri ini menjadi bagian dari sebuah perubahan. Bukan perubahan yang muluk. Namun perubahan yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Dan perubahan yang nyata. Menjadi bagian dari Konferensi Ibu Profesional membuat diri menjadi berenergi untuk bersinergi membiat perubahan
.
.
Bagaimana tidak? Kegiatan 3 hari 2 malam ini sungguh padat ilmu, sarat makna dan penuh sukacita. Beragam pembicara dihadirkan untuk memberikan hikmah dan memaparkan berbagai perubahan, besar ataupun kecil, lokal maupun global, baru dimulai ataupun sudah berdampak besar. Kesemuanya hadir memberikan suntikan semangat yang menantang hadirin. Apakah siapa menjadi changmakers selanjutnya?
.
.
Yeees… we are the next changemakers.
.
.





Pada Konferensi Ibu Profesional ini hadir @inemjogja yang menginspirasikan kegiatan sosial berbagi dengan berdandan nyentrik ala wong edan untuk menarik perhatian banyak orang. Sumitra Pasupathy hadir dengan berbahasa Melayu mix Inggris dan diterjemahkan oleh @arakusuma, bercerita tentang @ashokayc dan menggandeng peraih penghargaan youth changemaker yang di usia mereka yang masih sangat belia mampu memberikan perubahan yang bermanfaat besar bagi lingkungannya.
.
.
Bu @septi.peni hadir pun menjadi pembicara pada sesi malam hari pertama. Bu Septi memberikan semangat bahwa hambatan seorang ibu adalah tantangan yang bisa diatasi. Dan ibu tidak sendiri. Ada buanyaaaak ibu – ibu yang merasakan tantangan yang sama.
.
Hari kedua bertepatan dengan momen kemerdekaan, @maritaningtyas membacakan puisi yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sungguh sebuah momen kemerdekaan yang lain daripada yang lain. Ketika kami, para ibu, hadir dalam sebuah forum yang bersemangat bergerak mengisi kemerdekaan dengan membuat perubahan yang nyata.
.
.
Di hari kedua ini, Bunda Efi Femiliyah bercerita tentang Hijrah Nol Sampah dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk penyelamatan lingkungan dan alam, Bunda Elsy Junilia @elsy_ummu_zaha berkisah tentang konseling berperspektif gender yang menitikberatkan pada merilis segala emosi negatif yang memberikan dampak pada psikis ibu. 👇👇.
.
Sesi selanjutnya giliran tim Klik mewakili Bunda Sri Indahyani yang telah membuat video presentasi tentang kampanye anti bullying dengan apik. Kampanye ini menargetkan anak SD kelas 4,5,6 dan anak SMP sebagai subjek yang menyadari terjadinya bullying pada diri sendiri maupun orang lain serta mencegahnya menjadi pelaku bullying. Kesemuanya disajikan kepada anak secara sederhana dan menyenangkan.
.
.
Bunda Puspaning Dyah bercerita tentang sedekah jariyah yang dijalani oleh dirinya dan keluarganya. Beliau mengumpulkan zakat dan memberikannya sebagai pinjaman tanpa agunan kepada pelaku UKM yang terpercaya. Berapapun nilai pinjaman yang kembali padanya maka itulah yang akan digulirkan kepada penerima manfaat selanjutnya.
.
.
Acara semakin seru saat Bunda Noor Liesnani berkisah tentang perjuangan beliau mendirikan Pamela Group dengan dukungan penuh dari suami dan keluarga.
.
.
Di sisi belakang ballroom, panitia menyediakan sebuah papan besar yang terbagi dalam dua area. Masing – masing bidang memiliki judul : I want to get dan I want to give. Ternyata… peserta berkesempatan menuliskan apa saja yang ingin diperoleh dan apa saja yang ingin dibagikan dalam acara ini. Karena semua adalah murid dan semua adalah guru.
.
.
Ibu – ibu tentu sangat menyayangkan jika kulit buah terbuang percuma. Maka Bunda Uswatun Hasanah pun hadir mendemokan pembuatan ecoenzym yang merupakan zat pembersih serbaguna berbahan kulit buah. Peserta pun begitu antusias hingga tak sabar ingin mencobanya sendiri di rumah.
.
.
Ballroom Indraprasta dibuat bergetar oleh 6 kandidat penerima Changemaker Award. Yang salah satunya adalah Bunda Yuni Astuti dari IP banten. Melalui tulisannya, para kandidat ini telah menceritakan kisah hidupnya serta perubahan yang telah dibuat oleh dirinya. Hingga akhirnya Bunda Ressy Laila Untari Ningsih, Bunda Ika Pratidina dan Bunda Hilda Lu’lu’in dinobatkan menjadi penerima Changemaker Award. Barakallah
.
.
Salah satu yang ditunggu dalam KIP ini adalah Ta’mir Masjid Jogokaryan yang memaparkan kisah merubah masjid menjadi sangat bermanfaat bagi umat. Merubah mindset agar masjid menjadi tumpuan masalah dan solusi bagi umat tentu bukanlah hal yang mudah. Namun Jogokaryan membuktikan bisa. Data spesifik pun dimiliki Ta’mir Masjid Jogokaryan sebagai peta dakwah sehingga dakwah bisa dilakukan dengan optimal. Hingga saldo nol pun menjadi slogan masjid ini sebagai bentuk utama pelayanan umat.
.
.
Di sesi sore, Saya memaparkan tentang workshop menu belajar sesuai STPPA dengan peserta yang bisa mempraktekkan langsung dan berdiskusi bersama tentang menu belajar yang telah dibuat. Sesi terakhir sebelum break diisi oleh Bunda Puri yang bercerita tentang kebiasaan keluarganya untuk bertanya dan mencari jawaban pertanyaannya. Simulasi Pun dilakukan untuk membuat suasana menjadi hidup. Kami membuat pertanyaan, dan kami saling bertukar untuk menjawab pertanyaan dalam Ask to Solve.
.
.
Sesi malam, tak ada rasa ngantuk sedikitpun. Karena Pak Dodik membawakan materi tentang Perempuan Berdaya dengan sangat apik. Dream it, do it, share it, grow it. Menjadi langkah demi langkah yang merupakan pola menjadi perempuan berdaya. Seperti yang telah dipraktekkan beliau bersama Bu Septi Peni, istrinya.
.
.
Ibu yang begitu powerfull dan melayani adalah hal yang melekat pada Ibu @trimumpuni. Beliau yang begitu kuat membawa air dan listrik ke daerah tepi Indonesia dan daerah tak terjangkau oleh pembangunan daerah. Beliau yang menggerakkan masyarakat desa menerobos sungai, hutan, bahkan membelah bukit demi memerdekakan kaum perempuan dari pekerjaan berat yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengambil air dan mengolah minyak nilam. Sehingga para perempuan ini kini punya banyak waktu untuk bercocok tanam hingga membuat kain lokal.
.
.
Konferensi Ibu Profesional bukanlah seminar duduk manis mendengarkan narasumber. Namun KIP adalah bukti nyata perempuan menjadi changemakers agents yang akan membuat perubahan bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan selepas KIP dan kembali ke daerah asal. Maka dalam KIP juga dilakukan MoU sebagai bentuk sinergi antara Institut Ibu Profesional dengan berbagai pihak yang mendukung gerakan perubahan. perempuan.
.
.
Penutupan pun ditandai dengan penandatangan kertas lebar oleh seluruh peserta sebagai tanda bahwa seluruh peserta ikut berkomitmen dalam mengemban amanah sebagai agen perubahan. Tanda tangan ini tentunya tak sekadar menorehkan tinta saja. Namun juga menjadi semangat dan motor agar menjadi diri yang lebih baik dan melakukan perbuatan baik.
.
.
Apakah KIP ini sudah selesai? Belum. Gemanya masih menggaung. Euforianya masih semarak. Untaian kata dari para narasumber masih terngiang di telinga. Dan kini… Kami telah membeli jam terbang dari seluruh hadirin yang datang. Dari peserta, dari panitia dan yang pasti dari para narasumber. Kami siap melesat. Memulai perubahan kami dari memimpikannya, dan kami siap bergerak. Bersinergi dengan siapa saja demi kemaslahatan bersama. Karena kami lah changemakers selanjutnya.
.
.
#KIP2019 
#ibuberkonferensi 
#changemakers 
#perubahandiri 
#perubahankeluarga #perubahanlingkingan #menebarmanfaat 
#membelijamterbang #ibuagenperubahan
@konferensiibuprofesional
@septi.peni

Rabu, 18 September 2019

Siaran Radio : Menyusun Menu Belajar Sesuai STPPA

Oleh : Restu Anjarwati

Mudhowamah dan Restu Anjarwati

Pendahuluan

 Play is the highest form of research – Albert Einstein
Kegiatan bermain merupakan kegiatan utama bagi anak. Hampir di seluruh waktu anak dihabiskan untuk bermain. Namun jangan keliru, anak – anak tidak pernah main – main saat bermain. Karena bermain adalah cara anak untuk belajar. Dengan bermain akan akan menggerakkan otot – ototnya, mengasah kreatifitas dan mengembangkan imajinasinya. Sehingga kegiatan bermain juga merupakan sarana mencapai tumbuh kembang anak.

 Rentang konsentrasi anak yang pendek serta keinginanan anak untuk terus aktif bergerak dan berganti – ganti permainan seringkali membuat orang tua kehabisan ide untuk bermain dan berkegiatan bersama dengan anak. Kemudahan teknologi dan bertebarnya ide permainan di dunia maya justru membuat orang tua kebanjiran informasi yang tak juga menyelesaikan masalah ini. Oleh karena itu, langkah bijak yang perlu dilakukan orang tua adalah dengan mengembalikan tujuan bermain pada pencapaian perkembangan anak.

Pemerintah sudah menyusun secara lengkap tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) dalam lampiran Permendikbud nomor 137 tahun 2014. STPPA ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan anak. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mengarahkan stimulasi yang diberikan kepada anak melalui kegiatan bermain.
Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) merupakan kualifikasi minimal perkembangan anak usia 0 – 6 tahun yang termaktub dalam Permendikbud 137 tahun 2014. Di dalam STPPA ini termuat parameter – parameter capaian anak berdasarkan kategori umurnya : 0 – 3 bulan, 3 – 6 bulan, 6 – 9 bulan, 9 – 12 bulan, 12 – 18 bulan, 18 – 24 bulan, 2 – 3 tahun, 3 – 4 tahun, 4 – 5  tahun dan 5 - 6 tahun. Parameter capaian dalam STPPA meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosio-emosional, dan seni.

Menurunkan STPPA Menjadi Menu Belajar Anak

Walaupun STPPA ini sangat lengkap, namun tidak dapat langsung dipakai karena cakupannya sangat luas dan kurang spesifik. Selain itu, perkembangan dan ritme belajar anak berbeda-beda, sehingga membutuhkan kegiatan pembelajaran yang berbeda - beda pula. Oleh karena itu, STPPA perlu diturunkan menjadi kompetensi dasar yang kemudian dikembangkan menjadi menu belajar anak.

Menurunkan STPPA menjadi kompetensi dasar anak dapat dilakukan dengan menerjemahkan STPPA menjadi kalimat yang terdiri dari S (subjek), P (predikat), O (objek) dan K (keterangan). Subjek adalah anak, predikat berarti kegiatan yang dilakukan oleh anak, Objek merupakan alat yang digunakan oleh anak, keterangan adalah cara anak melakukan kegiatan, pengulangannya atau keterangan tempatnya.

Sebagai contoh STPPA usia 3-4 tahun dengan lingkup perkembangan kognitif. Dalam STPPA dituliskan: Menempatkan benda dalam urutan ukuran (paling besar - paling kecil). Hal yang perlu kita cermati adalah:

Benda yang dimaksudkan perlu didefinisikan dengan jelas
  1. Jumlah benda yang akan diurutkan harus kita tentukan
  2. Urutannya harus ditentukan dari yang paling besar atau yang paling kecil
  3. Cara mengurutkannya dengan ditata pada nampan, atau di atas kertas atau di alas kerja
Dari hal - hal tersebut maka kita dapat merumuskan kompetensi dasar sebagai berikut: “Mengurutkan 3 buah bola sama warna dengan ukuran yang bervariasi di dalam nampan dari ukuran paling besar hingga paling kecil lalu mengurutkannya kembali dari ukuran paling kecil hingga paling besar”

Dari sebuah kompetensi dasar, maka dapat disusun variasi kegiatan dengan level kerumitan yang semakin tinggi. Sehingga anak akan mampu mengembangkan keterampilannya secara bertahap. Contoh variasi kegiatan dari kompetensi dasar tersebut adalah:
  • Mengurutkan 5 buah bola sama warna dengan ukuran yang bervariasi di dalam nampan dari ukuran paling besar hingga paling kecil lalu mengurutkannya kembali dari ukuran paling kecil hingga paling besar.
  •  Mengurutkan 5 buah printable pohon dengan ukuran yang bervariasi dan menempelkannya pada sebuah kertas dari ukuran paling besar hingga paling kecil
  • Mengurutkan 5 buah koleksi model dinosaurus dengan ukuran yang bervariasi dinatas alas kerja dari ukuran paling kecil hingga paling besar dan mengurutkannya kembali dari ukuran paling besar hingga paling kecil.
Variasi - variasi kegiatan ini selanjutnya dituangkan dalam menu belajar harian.

Pelaksanaan dan Penilaian Menu Belajar Anak

Untuk menilai kemampuan anak, digunakan kriteria sesuai Permendikbud No. 146 tahun 2014 yaitu:
  • BB (Belum Berkembang) Bila anak melakukannya harus dengan bimbingan atau dicontohkan oleh guru.
  • MB (Mulai Berkembang) Bila anak melakukannya masih harus diingatkan atau dibantu oleh guru.
  • BSH (Berkembang Sesuai Harapan) Bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan konsisten tanpa harus diingatkan atau dicontohkan oleh guru
  • BSB (Berkembang Sangat Baik) Bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan sudah dapat membantu temannya yang belum mencapai kemampuan sesuai indikator yang diharapkan.
Menu belajar harian bukanlah sebuah jadwal kaku yang harus ditaati setiap harinya. Menu belajar adalah sajian judul - judul kegiatan anak yang merujuk pada kompetensi dasar sesuai dengan STPPA. Menu belajar ini disusun dalam jangka waktu dan jumlah kegiatan tertentu sesuai dengan perkembangan anak dan kesiapan orang tua. Biasanya menu belajar disusun 30 - 40 kegiatan untuk rentang waktu 2 - 3 bulan. Menu harian ini bersifat sangat fleksibel pada kecepatan dan kemampuan anak. Direncanakan untuk rentang waktu 2 bulan, namun jika anak sedang sangat senang belajar maka bisa diselesaikan lebih cepat dan jika motivasi belajar anak sedang turun, bisa jadi diselesaikan dalam 3 - 4 bulan.

Pelaksanaan menu belajar ini disesuaikan dengan kecepatan belajar anak. Dalam setiap harinya, kami berusaha melibatkan anak untuk memilih sendiri kegiatan belajarnya sehingga kami berharap tercipta kepemilikian proses belajar, anak merasa bahwa belajar adalah hal yang ia miliki, ia pilih sendiri, menjadi tanggung jawabnya dan manfaat belajar adalah miliknya. Bukan atas suruhan orang tua dan manfaatnya bukan untuk orang lain.

Simpulan
Penyusunan kompetensi dasar dan menu belajar ini mungkin terlihat rumit. Namun perlu dicoba oleh setiap orang tua yang menginginkan pembelajaran anak di rumah dengan baik. Anak tak sekedar bermain hal yang sama setiap harinya namun bermain dan berkegiatan dalam rangka mencapai tujuan perkembangannya. Sehingga akan membuat anak kaya pengalaman belajar yang menyenangkan dan tanpa paksaan walaupun masih usia dini. Perkembangan anak pun akan sesuai dengan usianya karena semua aspek perkembangan mendapatkan stimulasi yang optimal.

Sumber bacaan:
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 137 tahun 2014
Materi kelas intensif homeschooling bersama Nurmayanti Zain
Q


Baca juga artikel terkait

Minggu, 28 Juli 2019

Seminar Islamic Parenting Ibu Ida

Seminar Islamic Parenting Ibu Ida

Membangun A Home Team Tangguh di Era Milenial

Untuk membangun tim yang tangguh di rmh, maka perlu di mulai dari memperbaiki hubungan antara Suami dan Istri, atau Ayah dan Ibunya. Bagaimana mungkin bisa membangun sebuah team yg tangguh dan solid jika diantara Suami dan Istri atau Ayah dan Ibunya bermasalah. Dan hampir 90% masalah yg terjadi di keluaga adalah komunikasi yang tidak tepat.

Pesan Indah untuk para Suami :
"Apabila seorang suami memandang istrinya dan istrinya pun memandang suaminya, maka Allah Swt memandang keduanya"
"Apabila seorang suami menggenggam telapak tangan istrinya maka terhapuslah dosa-dosa keduanya melalui jari-jari tangan mereka"
Masya Allah, begitu Indah bukan?

Setelah Ayah dan Ibu, lantas apa saja yang bisa mnjadi pintu masuk problematika anak remaja milenial saat ini di kenal dgn istilah BLAST, yaitu :
B, boring ... Anak merasa Jenuh dengan kehidupannya
L, lonely .... Anak merasa kesepian, sendiri karena ortu ada tapi tiada
A, angry ... Anak merasa marah dgn sikap ortunya yang tdk bisa memahami dirinya
S, stress ... Anak merasa frustasi, stress menghadapi persoalan hidup tanpa pendampingan kedua ortunya
T, tired ... Anak merasa lelah dengan aktivitas hidupnya karena hidupnya seolah tanpa makna

 Sehingga dari permasalahan tersebut, maka banyak sekali kita temukan celotehan anak-anak  jaman now di sosmed tentang bagaimana sikap mereka dengan ortunya yang sangat memprihatinkan, bagaimana mereka tidak bisa menerima dan menghargai kedua ortu nya lantaran hubungan dgn ortunya memang terasa hambar.

Dan fenomena itu tidak bisa kita pungkiri di jaman milenial ini krn bisa jadi kondisi seperti itu tanpa kita sadari ada dlm kehidupan keluarga kita.

Bagaimana kondisi di rumah, antara anak, ayah dan ibu saling sibuk dan asyik dengan gadgetnya masing, mereka berdekatan namun sesungguhnya hati mereka berjauhan. Bagaimana rasa Kasih sayang manusia jaman Milenial ini telah tertukar dengan naluri seekor binatang, sungguh miris bukan???

Marilah kita baca senandung lagu ini, nyanyikan dan renungkan dalam hati serta bayangkan Suami/ Istri dan anak-anak kita
"Harta yang paling berharga adalah Keluarga,
Istana yg paling Indah adalah Keluarga,
Puisi yg paling bermakna adalah Keluarga,
Mutiara yg tiada tara adalah Keluarga"

Betapa posisi Keluarga sangatlah penting, namun terkadang kita malah melalaikannya, tanpa sadar kita menomor duakan atau bahkan menomor sekian puluh kan daripada kepentingan, kesibukan kita dgn teman, partner kerja, bisnis dan lain-lain.

Ternyata karena kita tidak pernah belajar mempersiapkan diri kita sebagai seorang Ayah atau Ibu bagi anak-anak kita, ada banyak sekolah formal, ada banyak kursus  ketrampilan namun sangat jarang atau bahkan tidak ada sekolah untuk menjadi Ayah atau Ibu.

Menurut pak Anies Baswedan "Dibandingkan dgn profesi-profesi lain, orangtua adalah profesi yang paling tidak tersiapkan"
Betul apa betul???

Ciri-ciri orang Bahagia itu, antara lain :
  1. Senantiasa Duduk denga Tegap, karena motion to motion artinya gerakan tubuh mempengaruhi emosi diri
  2. Ekspresi Wajah yang slalu Tersenyum

Sedang Tips Komunikasi yg baik itu antara lain :
  1. Ekspresi Wajah
  2. Gestur Tubuh
  3. Suara rendah, The Lowers the Strongger (makin Lembut suara maka akan menghasilkan Kekuatan)
Seringkali ketika kita berbicara lebih banyak mengatakan apa yang TIDAK KITA INGINKAN daripada APA YANG DIINGINKAN, betul apa betul?

Misal ketika melihat kondisi rumah berantakan, lalu kita berkata "Rumah berantakan sekali, kamu males banget sih dan bla bla bla, lantas apakah kemudian anak akan merespon dengan baik jika kita berkata demikian???

Harusnya, " Ayo rapihkan rumahnya ya, lantai di sapu dan sampah di buang ya nak"
 Pada hakikatnya ketika :
a. Apa yg kita PIKIRkan,
b. Apa yg kita RASAkan,
c. Apa yg kita LAKUkan, dan
d. Apa yg kita UCAPkan,
Itu semua akan menjadi DOA, maka usahakan agar kita slalu menselaraskan antara Pikiran, Perasaan, Perlakuan dan Ucapan untuk slalu yang Baik

Ikigai, ini merupakan konsep orang Jepang untuk menjadi sesuatu, ketika :
  1. Apa yg kamu Suka bertemu dgn apa yg kamu anggap baik maka itulah Passion
  2. Apa yang anggap baik bertemu dengan apa yg membuat kamu dapat dibayar (menghasilkan) maka itulah Profesi
  3. Apa yang membuat kamu di bayar (menghasilkan) bertemu dengan apa yang dunia butuhkan maka itu adalah Pekerjaan
  4. Apa yang dunia butuhkan bertemu dengan apa yg kamu suka maka itulah Misi
 Seorang manusia yg sdh menemukan Misi Hidup keberadaan ia di dunia ini tentunya memiliki 2 hal yaitu Unstoppable (tdk dapat dihentikan meski ada tantangan dan hambatan) dan On fire (memilki Semangat yg membara untuk slalu berbagi dan berkontribusi bagi umat).

Sudahkah diri kita menemukan Misi Hidup? Jika belum, ayo temukan agar hidup ini mnjadi lebih bermakna.