Sabtu, 04 Mei 2019

Bunda, Yuk Resign Tanpa Ragu!

Review Buku : Bunda, Yuk Resign Tanpa Ragu!

 


Hai ... ibu profesional Banten .... 😍😍😍
kali ini kami akan menampilkan review dari salah satu member ibu profesional banten. Review yang di tulis oleh teh Isna ini ternyata mampu memberikan sumbang support bagi ibu pofesional yang lebih memilih ranah domestik sebagai satu-satunya pekerjaan yang akan ditekuni. Bisa juga melalui review buku ini, mampu menjadi salah satu jalan keluar para bunda yang sedang dalam kebingungan, apakah ingin berlanjut menekuni dunia publik atau dunia domestik.

Yu, kita simak review d bawah ini 👇

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh

Hari ini saya berkesempatan untuk mereview buku "Bunda, yuk resign tanpa ragu!". Awalnya lihat postingan teman di wa story yang menjual buku ini. Karena pada saat itu saya ibu bekerja yang sedang galau (segalau mau makan bubur diaduk apa nggak) dilema pengen banget resign, jadi saya beli dengan harapan dapet pencerahan dari buku ini 😄 oke langsung ke detil bukunya dulu ya ....

Judul buku: Bunda, Yuk Resign tanpa Ragu!
Penulis: Mina Megawati
Penerbit: Raditeens
Terbit: November 2018
Jumlah halaman: 168
Ukuran kertas: A5

Penulis memaparkan tentang karirnya di bidang hospitality yg sudah lebih dari 14 tahun dari mulai single, menikah, hamil sampai punya dua anak. Juga menceritakan pengalaman tentang perjalanan resign-nya yang tak mudah. Terngiang dengan speech-nya Steve jobs mengenai connecting the dots, yaitu menghubungkan titik (kejadian yg dilalui) masa lalu dengan masa sekarang, yg membuatnya merasa kesulitan untuk mengambil keputusan resign.

Kejadian masa lalunya yang pernah mengalami masalah ekonomi keluarga karena ayahnya di PHK hingga berpindah-pindah tempat sampai pernah diusir oleh Bude nya sendiri karena dianggap menumpang dan tidak tau diri, sempat meninggalkan trauma. Jika ia memutuskan resign khawatir kejadian yg sama akan menimpanya, padahal untuk mendapatkan jabatan tinggi dan penghasilan yang besar ini tidaklah mudah ia lalui.

Keputusan resign diambil setelah bergelut selama 3 bulan. Meminta izin pada kedua orangtuanya, dan mendapati kekecewaan yang mudah terlihat dr raut wajah kedua orangtuanya. Padahal salahsatu alasan ia berkarir adalah agar bisa membantu meringankan orangtua. Tetapi ia tetap menjelaskan dengan hati-hati, terutama mengingatkan bahwa rezeki bisa datang dari pintu mana saja.

Ia juga sudah meminta izin kepada suami, dan diperbolehkan, asalkan bisa bertanggung jawab terhadap keputusannya tersebut, tidak uring-uringan di rumah setelah resign, bisa mengelola keuangan yang hanya dari satu sumber, dan lain-lain. Akhirnya ia memilih hening sesaat, mencari tau tentang tujuannya hidup di dunia. Mengingat kembali bagaimana hak-hak anaknya yg tidak bisa diwakilkan oleh orang lain seperti hak kasih sayang dan hak bermain misalnya. Mengabaikan quality dan quantity time untuk anak-anaknya dan khawatir hari tuanya akan diabaikan oleh anak-anaknya.

Menemukan tujuan hidupnya membuat ia tersadar bahwa momen perkembangan anak tidak akan bisa terulang. Selain itu ia benar-benar tersadar bahwa kelak bukan perkara karir yang akan Allah tanya, melainkan tanggung jawabku terhadap amanah yang Allah berikan. Menjadi Ibu bukanlah status semata, tetapi ini adalah jabatan yg Allah kasih sendiri, bukan hambaNya. Dan saat Allah memberikan sesuatu itu pasti bukan hal yang main-main atau sekadar kebanggaan semata, tp lebih kepada tanggung jawab dan penghambaan yg sebenarnya. Akhir cerita penulis setelah resign bangga menjadi ibu rumah tangga, terlebih penting menjadi ibu bahagia.

Kelebihan buku ini yaitu:

Bahasanya santai, enak dibaca. Banyak kutipan-kutipan motivasi, hampir di setiap halaman. Sebelum kutipan disimpulkan sebelumnya ada narasi yg menggambarkan kutipan tsb.

Kekurangan dalam buku ini yaitu:

Banyak beberapa tips yang ditulis dibuat poin-poin, jadi seperti membaca artikel, padahal kalau dibuat alur cerita mungkin lebih enak. Meskipun tipsnya bagus tapi kadang membuat bosan (versi saya, soalnya keseringan yg dibaca artikel 😅🙏)

Jadi, setelah baca ini saya dapet pencerahan gak untuk resign? Dapet banget.. ada beberapa cerita yang bikin sedih, karena mengaca pada diri sendiri. Ada hadist-hadist dan kisah zaman Nabi yang bikin tersentuh.

Tapi sama seperti penulis, saya akan memutuskan resign dalam jangka waktu yg lama, kayaknya lebih lama, soalnya belum dapet jawaban dari istikhoroh, selain itu kondisi berbeda antara saya dan penulis. Hehehe..

Rating: 8 dari 10

Sekian review buku hari ini, terima kasih dan wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Senin, 22 April 2019

Dermaga Eksklusif Pelabuhan Merak - Review

"Dermaga Pelabuhan, Rasa Bandara"


Oleh Sri Yulianti



Tinggal di Banten seharusnya kita tidak kehabisan ide untuk meng explore berbagai tempat menarik yang ada di dalamnya.


Sudah pernah mendengar Dermaga Pelabuhan Eksekutif Merak? Kali ini saya ingin berbagi pengalaman setengah hari kami di sana.


Pagi-pagi kami sudah keluar rumah. Berangkat menyusuri  jalur biasa menuju Cilegon, niat awal hanya untuk makan bubur BCA. Setelah kenyang, tercetus ide untuk mengajak ibu bapak mertua, ipar dan tentu saja anak-anak untuk menjajal Pelabuhan Merak.


Ternyata kedatangan kami disambut sebuah tulisan besar dan menggoda, "Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak". Letaknya persis di dekat terminal Merak dan berada di sebelah kiri jalan. Tanpa fikir panjang kami langsung berbelok


Sebelum masuk ke tempat parkir, ada papan harga yang jelas tercantum, Rp.50.000 per orang dewasa, Rp.34.000 untuk anak, Rp.62.000 untuk motor golongan l, dan Rp.579.000 untuk kendaraan minubus.


Memang tarif yang ditawarkan lebih mahal dibanding tarif di dermaga yang lain, tapi tunggu dulu, harga ini sepadan dengan fasilitas yang ditawarkan.


Parkir yang luas dan aman kita dapatkan dengan hanya membayar Rp.5.000 saja. Di lantai pertama kita akan dimanjakan dengan fasilitas setara mall. Full ac!
Ada berbagai gerai makanan misalkan saja KFC, Es Teler 77 dan Starbucks. Beberapa lainnya sedang dalam  proses renovasi untuk buka. Naik ke lantai dua, kita bisa menggunakan eskalator ataupun lift.




Memasuki lantai dua, mata kita kembali dimanjakan dengan berbagai gerai makanan ringan, kedai kopi dan aneka permainan anak.


Di setiap lantai ada fasilitas kamar mandi yang luas dan bersih. Untuk nursery room pun tersedia.


Tunggu... Kapan kita masuknya??


Hehe.. tenang, di lantai dua ini terdapat loket tempat kita membeli tiket. Dan di sayap sebelah kiri ada berjejer kursi untuk kita menunggu keberangkatan. Tempat tiket, tempat menunggu dan tempat masuk ke kapal, semua diatur seperti layout bandara terminal 3 Soekarno Hatta. Mewah!!
Bahkan menuju dalam kapal pun kita akan menggunakan tangga berjalan seperti layaknya naik pesawat. Untuk yang senang ber swa foto, tempat ini sangat instagramable sekali!



Menyebrang ke Bakahueni di jadwal bisa sampai dalam waktu sekitar satu jam saja bergantung pada cuaca. Keberangkatan kapal dijadwalkan setiap satu jam. Dan dari pelabuhan Bakahueni nantinya akan bisa langsung terhubung dengan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Untuk para pelancong atau pebisnis yang ingin berefektif dalam waktu, moda ini sangat cocok.


Untuk keluarga yang ingin merasakan kenyamanan dan pengalaman baru, Dermaga Eksekutif ini patut dicoba.


Untuk yang hanya ingin sekedar jalan-jalan saja, Dermaga inipun sangat cocok. Kita bisa mengenalkan berbagai macam proses di Dermaga sampai dengan menyeberangnya kapal ke Bakahueni dengan hanya memasuki dermaga saja. Ya benar! Cukup dengan membayar tiket parkir, dan kita bisa berjalan berkeliling dermaga gratis! Kapal pun bisa terlihat jelas karena ruangan dermaga di setting dengan kaca-kaca yang sangat tinggi hampir di seluruh bagiannya.


Jadi, jika ingin berwisata edukasi murah meriah, Dermaga Eksekutif Merak inipun sangat cocok😄.


Sekian review tempat kali ini. Semoga bermanfaat.


Tertarik untuk mencoba??

Minggu, 21 April 2019

Jalan-jalan : Jakarta Aquarium Neo Soho


Oleh : Senny Listy

Kamis sekeluarga mengunjungi Jakarta Aquarium Neo Soho Februari 2018 yang lalu. Sudah jauh-jauh hari mengagendakan kunjungan ke tempat aquarium raksasa untuk mengenalkan aneka satwa air pada Gaza. Memang tidak seluas SeaWorld Ancol tapi akses yang mudah dan lokasi yang tidak terlalu sulit dijangkau menjadi salah satu pertimbangannya.

Jakarta Aquarium terletak di Neo Soho Mall Central Park Jakarta Barat. Akses lokasinya dari Serang sangat mudah. Hanya menumpang elf Serang-Grogol dan langsung bisa berhenti di depan mall-nya dengan biaya transportasi yang sangat terjangkau.


Jakarta Aquarium merupakan anak usaha dari Taman Safari Indonesia yang bekerja sama dengan KLCC Aquaria Malaysia. Tempat rekreasi sekaligus edukasi yang menggabungkan keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan teknologi. Di sini terdapat lebih dari 600 jenis satwa laut maupun sungai, termasuk satwa langka dan asli Indonesia, seperti ikan kerapu raksasa berbobot 300 kg ubur-ubur, hiu, ikan pari, reptil, amfibi, berang-berang dan masih banyak lagi.




Ada 12 zona di dalam Jakarta Aquarium yang menampilkan berbagai keindahan makhluk air ciptaan Allah. Si kecil bisa diajarkan tentang Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. Selain itu ada juga pertunjukan teater Pearl of The South Sea dan Wahana 5D Sea Explorer. Jika rela merogoh kantong lebih dalam, kita bisa menikmati sensasi makan bersama hewan pinguin di Pingoo restaurant.

Tiket masuk Jakarta Aquarium ada yang Reguler dan juga Premium yang mencakup wahana 5D Theater. Harga tiket terbaru bisa dilihat di link berikut :
https://travel.tribunnews.com/2019/01/21/info-lengkap-dan-daftar-tiket-jakarta-aquarium-neo-soho-terbaru-2019


Ayoo wisata edukasi bersama si kecil ke Jakarta Aquarium Neo Soho Mall.. Dijamin seruuuu...

*Jakarta Aquarium Neo Soho*
Alamat: Jalan Letjen S. Parman Kav. 28, Jakarta (di dalam Mall Neo SOHO, yaitu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat tepatnya di lantai LG 101 – LGM 101)
Email info@jakarta-aquarium.com
Kontak: (021) 1-500-212
Buka: Setiap Hari (10.00 – 20.00 WIB)

Referensi :
Dokumentasi pribadi
travel.tribunnews.com
www.jakarta-aquarium.com
Google image

Launching Buku Antologi Ibu Profesional Banten

Kisah Bunda Menginspirasi Semesta



Para penulis buku antologi

Kisah Inspiratif. Kali ini para ibu profesional banten, lagi bahagia banget nih, khususnya emak-emak ibu profesional banten yang berada di rumbel menulis. Kurang lebih dalam waktu 2-3 bulan, member ibu profesional banten ditargetkan harus membuat naskah berupa kisah yang dianggap menginspirasi. Walaupun tidak semua member menjadi kontributor, tetapi 26 penulis cukup mewakili.

Kisah inspiratif kali ini berupa buku antologi. Ada yang tahu apa itu antologi?

Antologi yaitu sebuah kumpulan karya yang dijadikan menjadi satu buku. Bisa dikatakan, satu buku terdiri dari beberapa penulis yang memiliki satu tema tertentu. Namun banyak juga buku antologi yang memiliki beberapa tema didalamnya. kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
antologi/an·to·lo·gi/ n kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang: sebuah -- sajak perjuangan bangsa Indonesia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Arti Antologi dalam KBBI


Kisah Bunda Menginspirasi Semesta

Ahad, 21 April 2019. Waktu yang sengaja ditentukan, agar launching buku berbarengan dengan bedah buku lainnya di Rumah Dunia, yang terletak di sekitar daerah serang perumahan Hegar Alam. klik di Profil Rumah Dunia.

Bertepatan juga dengan Kartini's Day, akhirnya buku ini launching. Pas banget ya, buku dengan kisah emak-emak rumbel menulis Ibu Profesional yang menginspirasi, semoga kami seperti Ibu Kartini juga yang sepanjang zaman selalu menginspirasi kaum wanita. Amiiiin ... aamiiin ... yaa Robbal 'aalamiiin.

Pada kegiatan World Book Day ini disajikan tiga buku antologi dari komunitas berbeda, dan 1 buku novel yang ditulis oleh anggota member rumah dunia itu sendiri. Nah, ngomong-ngomong tentang Rumah Dunia, ternyata banyak keunikan ya dari wadah yang satu ini. Terkenal dalam dunia kepenulisan, rumah dunia juga memiliki seabreg karya. Sampai di acara seperti World Book Day kemarin, banyak sekali peminat yang antusias menghadiri acara sampai akhir. Hampir full seat lho, keren, 'kan? Semoga para penulis, khususnya ibu profesional banten, nggak kalah semangatnya ya dengan kawan lain yang selalu semangat menimba ilmu untuk terus berkarya.

Oiya, dalam launching kita kali ini, diwakili beberapa kontributor yang hadir, salah satunya yaitu tim admin blog (yeeeaaay, nyampe juga ke rumah dunia naik angkutan umum, hihi). Kisah Bunda Menginpirasi Semesta, judul buku antologi kami. Terdapat beberapa kisah perjuangan nyata, yang dialami member untuk menjadikannya sebuah moment bersejarah, yang mampu menggugah pembaca. Ada beberapa diambil dari kisah perjalanan hidup pribadi, ada juga kisah orang lain, tetapi diceritakan kembali dengan gaya khas masing-masing.


Menjelang launching buku "Kisah Bunda Menginspirasi Semesta", ketiga penulis antologi dipersilakan menaiki panggung oleh pembawa acara, diantaranya yaitu PJ rumbel menulis yaitu teh Yuni Astuti (penulis novel Saipeh Baper), teh Niya Tulus (penulis antologi), dan saya sendiri. Masing-masing memperkenalkan diri agar suasana menjadi akrab dan bersahabat. Kami pun, Ibu Profesional Banten berduet launching dengan komunitas lain, AGBSI namanya.

Komunitas AGBSI dan Ibu Profesional Banten


Perkenalan dimulai dari saya sendiri, kemudian dilanjutkan dengan teh Yuni Astuti, dan terakhir teh Niya. Sedikit kaku untuk saya pribadi, yang masih amatir public speaking. Berbeda dengan dua penulis lain yang terlihat santai, tanpa gerogi. Keren bangetlaahh pokoknya teh Yuni  dan teh Niya. Usai perkenalan dilanjutkan dengan pertanyaan pembawa acara, "Apa sih yang kami tulis dalam buku ini?"

Niya Tulus, Yuni Astuti, dan Mudhowamah


Nah kaaan, saya gerogi lagi. Akhirnya mikir keras, apa yang akan saya sampaikan. Mau kompromi dulu dengan teh Yuni dan teh Niya, nggak memungkinkan. Apa kata penonton, haahaha. Bisa-bisa kelamaan kompromi. Saat mic (baca: pengeras suara) di tangan, yawis deh saya pasrah. Terserah bibir mau berbicara apa. Untungnya, terlewat didokumentasi. Hanya ada sepatah dua patah kata dari teh Niya, kalian bisa tonton di video ini.





Alhamdulillah, acara launching berjalan dengan lancar. Beberapa bagian terkait isi buku diceritakan, agar semakin menggairahkan semangat para penonton yang sudah kelelahan. Tak lupa motivasi dari pendamping rumah dunia, yang selalu menyemangati penulis lainnya. Bahwa menulis bukanlah hal yang mudah, menulis bukan hanya rangkaian kata tanpa makna. Ada sebuah rasa kepuasan tersendiri, kala kita mampu menyelipkan pesan di antara aksara.

Terakhir, ditutup dengan closing statement dari PJ rumbel menulis, teh Yuni Astuti. Oiya, ada cuplikannya juga lho, yuk kita intip.





"Karya ini semoga bukan karya terakhir kita. Dan kita akan terus berkarya bagaimanapun sibuknya kita, semoga kita selalu berkarya. Jadi setiap ibu itu sebenernya, semuanya bekerja. Ada yang bekerja di rumah, ada yang bekerja di luar, bahkan ada juga yang bekerja di keduanya (dalam dan luar rumah).  Saya pun berterima kasih kepada seluruh kontributor yang ikut berpartisipasi dalam buku ini, yang sudah hadir, yang namanya tidak bisa disebutkan satu per satu. Dan tidak semuanya bisa hadir di sini, tapi kami mengapresiasi kepada semuanya. Terima kasih." (Yuni Astuti, PJ Rumbel Menulis).

Senin, 08 April 2019

Review film Keluarga Cemara


Pemeran :
Widuri sebagai Ara
Ringgo Agus Rahman sebagai Abah
Nirina Zubir sebagai Emak
Adhisty Zara sebagai Euis

Sutradara : Yandy Laurens
Produksi : Visinema Pictures
Durasi : 1 jam 50 menit
Tanggal Rilis : 3 Januari 2019 (Indonesia)
Rating penulis : 8 (skala 1- 10)





Film yang diperankan oleh pemain inti Ringgo Agus Rahman sebagai abah, Nirina Zubir sebagai emak. Anaknya si bungsu Ara/Cemara dan si sulung Euis. Bermula dari keluarga serba ada, saat ulang tahun Euis, emak harap-harap cemas menunggu abah. Alih-alih yang datang bukan abah, melainkan saudara emak beserta rombongan orang yang akan menyita rumah emak dengan segala isinya. Ada kasus yang diperbuat saudara tepatnya adik emak yang menyebabkan semua harta ludes des des.
Sedihnya, saat abah pulang dengan tumpukan rasa lelah, harus menerima kabar ini. Akhirnya mereka berempat tinggal di kantor abah untuk sementara. Hanya baju yang dibawa. Seluruh aset hilang, uang di rekeningpun harus rela dikeluarkan untuk membayar pesangon karyawan abah, semua "dipulangkan".
Singkat cerita, mereka tak bisa lagi hidup di Jakarta, mereka pindah ke rumah warisan orang tua abah di Bogor. Rumah tua, di pedesaan. Sinyal teleponpun akan datang dengan menaiki pohon.
Mulailah kehidupan baru, abah jadi kuli bangunan, Ara dan Euis sekolah di sekolah negeri biasa. Kalau belum menderita, kayaknya sutradara belum puas ya?  Abah mengalami kecelakaan kerja. Kakinya harus ditopang tongkat sekedar untuk berjalan. Sudah tak ada lagi andalan penghasilan. Emak akhirnya turun tangan, jualan keripik. Euis jualan ke SMP nya, walau dengan rasa gengsi dan malu yang tinggi. Bagaimana nggakmalu? Gadis ABG Jakarta yang tergabung di girls dance harus jualan keripik?
Stres mulai melanda setiap orang di keluarga, kecuali Ara, karena masih polos kali ya? Dia enjoy ajaaa ada di kampung. Euis sudah mulai ngeyel kabur ke kota untuk ketemu teman girls dancenya, tanpa sepengetahuan abah dan emak. Emakpun ternyata hamil, dan ia merasa sedih karena akan banyak biaya lagi. Abah sudah mulai emosi terutama dengan perilaku Euis.
Setelah sembuh, abah menjadi ojek online. Tapi kebosanan melanda, wacana balik ke Jakarta muncul kembali dari abah. Rumah warisan ini dijual buat modal pulang. Ada tawaran dari orang kaya yang mau beli rumah itu untuk dijadikan villa katanya. Tapi justru keputusan abah hadir disaat Euis dan Ara sudah mulai menerima kondisi mereka, sudah mulai nyaman dengan lingkungan baru.
Saya suka dengan peran ayah yang dimainkan abah. Sosoknya dekat dengan anak-anak. Padahal, anaknya semua perempuan. Ayah yang sangat stabil emosinya, marah di film itu hanya satu kali, yaitu saat Euis berulah. Sisanya, ketika ada konflik di keluarga, abahlah yang paling bisa mencairkan suasana. Emak juga sangat lembut terhadap anak-anak.
Judulnya keluarga cemara, tapi kisah anak yang dominan diceritakan malah Euis,  saya pikir ganti aja judulnya jadi keluarga Euis tapi mungkin nama Euis kurang menjual?

Untuk anak usia kelas 3SD seperti anakku, bisa ambil hikmah dari film ini. Kata kunci yang ia keluarkan waktu saya minta kesan setelah nonton film ini adalah "bersyukur". Kalau anakku yang usia 4 dan 6 tahun malah bete diajak nonton ini, serunya malah pas muncul tokoh-tokoh humor seperti Asri Welas dan satu lagi temen kecil abah di kampung, kurang hafal pemainnya. Bikin ketawa kalau udah pemeran itu masuk. Tapi klimaks nya biasa aja. Aduk emosi nya di adegan yang bikin sedih atau baper aja, standar sinetronlah tapi nggak sampe bercucuran air mata, beda pas nonton film 212 ada yang bikinin penasaran, ada yang bikin nangis. Kalau film ini nggak sampe ngucur  banget walau adegannya sedih. 


Ditulis oleh : Wiwi Wisudawati
Foto : google

Selasa, 26 Maret 2019

Romance Is A Bonus Book (drama review)

Assalamualaikum bunda pembelajar, buat yang masuk rumah belajar menulis IP Banten pasti tahu kalau mulai bulan ini ada kegiatan baru di WA Grup Rumbel menulis. Kami mengadakan jadwal baru sebagai latihan dalam memperindah tulisan.

Dimulai dari review buku, review tempat, review film dan review karya diri. Wuih... asik banget kan kegiatan baru rumbel menulis ini dan insyaallah manfaat juga untuk yang membaca.

Kali ini akan ada review drama Korea dari teh Yuni, coba angkat tangan yang tinggi buat buibu pecinta Drakor dan film Korea! Yeah saya ikutan angkat tangan juga hehehe ....

Yuk kita simak ulasannya! 👇


Sudah Nonton Romance is a Bonus Book?


Pernah nggak Mak, punya pengalaman romantis bersama buku? Atau, punya kisah hidup yang berkaitan dengan buku. Misalnya ketemu suami gara-gara sering gak sengaja berpapasan di perpustakaan, lalu kejedot saat mau ambil buku yang sama. Oke, that's too much dramas.

Romance is a Bonus Book juga menceritakan kisah romantis tokohnya bersama buku. Pernah nonton drama kece Pinocchio yang dibintangi Lee Jong Suk? Nah kali ini Lee Jong Suk berperan sebagai Cha Eun Ho (32 tahun), kepala editor di Penerbit Gyeoroo yang jatuh cinta pada Kang Dan-i (37) yang dibintangi oleh Lee Na Young.

Banyak yang memprotes mengapa Lee Jong Suk dipasangkan dengan Lee Na Young, apakah jika keduanya bersatu maka akan terbentuk spesies ikan Lee Lee karena nama depan mereka sama? Haha, abaikan saja kejayusan ini Mak. Kenapa Lee Na Young, kok bukan Bae Suzy seperti di While You Were Sleeping atau Park Shin Hye seperti di Pinochhio? Kok ini sama mbak-mbak yang lebih tua? Justru kalau saya mah setuju aja karena ku selow sangat selow sungguh selow santai santai jodoh gak akan ke mana. Ya kan sesuai cerita lah Mak, suka-suka Jung Hyun Jung sebagai pengarang cerita ini yang menjadikan pemeran utama wanitanya lebih tua. Lha wong Lee Jyeong-hyo sebagai sutaradara aja selow  dengan pemeran Mbak Lee Na Young ini. Malah aneh kan kalau karakternya lebih tua tapi diperankan oleh Suzy yang emesh-emesh. Apalagi kalau saya yang meranin, umesh kayak kerupuk kecemplung di kuah seblak.

Kang Dan-i itu tadinya copywriter terkenal dan berprestasi di sebuah perusahaan periklanan. Karena dia menikah lalu resign dari pekerjaannya demi mengurus keluarga, praktis dia mengalami masa "cuti panjang" dari dunia kerja. Ladhalah suami yang udah dibela-belain buat dinikahi itu malah selingkuh, lalu usahanya bangkrut, rumah dijual dan si suaminya menikah dengan selingkuhannya. Nasib Dan-i ngenes banget Mak, dia nggak dapet harta gono-gini, membiayai anak seorang diri, dan tinggal di bekas rumahnya tanpa listrik. Nyari kerja di mana-mana ditolak terus. Tiap wawancara gagal aja karena dia udah lama resign jadi dikhawatirkan inovasinya udah jadul sebab dunia kerja itu dinamis. Dia bakalan kalah saing sama pekerja yang lebih fresh.

Cha Eun-ho yang udah naksir Mbak Dan-i sejak kecil ini, menjadi pelindungnya deh. Pertemuan pertama mereka juga unik, nggak jauh dari buku. Persahabatan Eun Ho dan Dan-i ini udah deket banget, sampai-sampai Eun-Ho dianggap seperti adiknya. Padahal, nggak ada persahabatan murni antara lelaki dan perempuan. Pasti salah satu atau keduanya memendam rasa. Begitu pula Eun Ho.

Singkat cerita, Dan-i bekerja di Penerbit Gyeoroo sebagai Office Girl. Dia sangat menikmati pekerjaannya itu, sambil sesekali menyumbang ide untuk penerbit. Nah, selain kisah Dan-i dan Eun Ho, juga ada kisah dari karyawan lain di penerbit ini. Ada direktur Go yang dingin banget. Ada Presdir Kim yang begitu dramatik saat ada buku baru terbit. Ada Ji Yul, karyawan manja yang anak mami banget dan jatuh cinta sama Park Hoon, cowok aneh yang berdedikasi tinggi. Mereka bekerja keras demi terbitnya sebuah buku.

Alih-alih baper sama kisah romantisnya Eun Ho dan Dan-i, saya baper sama pandangan mereka tentang buku. Untuk menerbitkan satu judul buku diperlukan kerja sama antara editor dan desainer sampul serta banyak pihak lainnya. Kebahagiaan penulis saat bukunya dicetak ulang juga menjadi kebahagiaan editor. Bahkan banyak adegan pemberian hadiah bagi para penulis penerbit Gyeoroo. Sampai detail gitu lho bahwa penulis fulan suka masak maka berilah hadiah alat-alat masak di hari ultahnya. Penulis lainnya dikasih produk kecantikan dan sebagainya. Saya pun ngayal, kapan ya ada penerbit yang segitu perhatiannya sama penulis di Indonesia? Hahaha...

Nah, ada salah satu penulis bernama Kang Byung Jun yang udah pensiun dari karier menulisnya dan memberikan hak cipta sepenuhnya ke Gyeoroo. Awal-awal keberadaan dia menjadi misteri, tapi akhirnya terkuak alasan kenapa dia pensiun dari menulis.

Adegan favorit saya adalah saat Eun Ho menyatakan cintanya ke Dan-i. Saranghe? Sarangburung? Mi burung dara? Dara muda daranya para remaja? Aih.. fokus!

Eun Ho duduk memandangi bulan, sementara Dan-i duduk di sebelahnya. Eun Ho bilang, "Dan-i, bulannya indah." Tapi Dan-i nggak peka, dan hal itu diulangi lagi ketika salju turun kemudian Eun Ho bilang, "Dan-i, saljunya indah."

Alih-alih berkata "aku mencintaimu", Eun Ho justru berkata tentang bulan dan salju yang indah. Bukankah itu romantis versi penikmat buku? Rupanya Eun Ho belajar dari SOSEKI NATSUME. Siapa dia?

Soseki Natsume, Novelis Jepang yang wajahnya diabadikan di lembaran uang 1000 yen ini menerjemahkan “i love you” menjadi “Tsuki ga kirei desu ne” yang berarti “Bulan indah sekali, ya.”

Iya, ada banyak quote menarik di drama dengan 16 episode ini. Satu yang paling berkesan bagi saya adalah pesan terakhir Kang Byung Jun, yaitu, "Sebuah buku mungkin tidak bisa mengubah dunia tetapi ia bisa meninggalkan kehangatan di dalam hati seseorang. Maka jadilah kamu seperti buku yang meninggalkan kehangatan bagi seseorang." (*)

Penulis : Yuni Astuti
Pernah di publikasikan oleh penulis di blognya : http://www.emakbaper.blog
Foto by Google image

Rabu, 20 Februari 2019

Apa sih Free Writing?



Free writing, begitu kami menyebutnya. Suatu kebebasan menulis tanpa perlu memikirkan tekhnik kepenulisan dan aturan PUEBI ataupun KBBI, tidak juga ada koreksi.

Free writing bisa dituliskan dalam waktu 10-30 menit per hari secara rutin. Menulis bebas sering dilakukan sebagai bagian harian dari penulis untuk membebaskan kata-kata yang ada dalam diri kita.

Bagaimana jika kita bukan penulis?

Tetap bisa dilakukan siapa saja, tanpa perlu memandang profesi. Membebaskan kata bagi orang tua yang ingin menjaga kewarasan saat mengurus domestik pun, bisa. Merasa stres kala pekerjaan publik melanda pun, bisa diungkapkan lewat free writing. Tapi ingat, hal tertentu jangan sampai dipublikasikan di media sosial anda.

Nah, bagi anda penulis sejati, lakukan freewriting saat ketika  merasa macet, writing block, latihan menulis, memicu ide menulis, menulis diari, melepaskan stres, dan lain-lain.

Mau mencoba free writing?