Senin, 22 April 2019

Dermaga Eksklusif Pelabuhan Merak - Review

"Dermaga Pelabuhan, Rasa Bandara"


Oleh Sri Yulianti



Tinggal di Banten seharusnya kita tidak kehabisan ide untuk meng explore berbagai tempat menarik yang ada di dalamnya.


Sudah pernah mendengar Dermaga Pelabuhan Eksekutif Merak? Kali ini saya ingin berbagi pengalaman setengah hari kami di sana.


Pagi-pagi kami sudah keluar rumah. Berangkat menyusuri  jalur biasa menuju Cilegon, niat awal hanya untuk makan bubur BCA. Setelah kenyang, tercetus ide untuk mengajak ibu bapak mertua, ipar dan tentu saja anak-anak untuk menjajal Pelabuhan Merak.


Ternyata kedatangan kami disambut sebuah tulisan besar dan menggoda, "Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak". Letaknya persis di dekat terminal Merak dan berada di sebelah kiri jalan. Tanpa fikir panjang kami langsung berbelok


Sebelum masuk ke tempat parkir, ada papan harga yang jelas tercantum, Rp.50.000 per orang dewasa, Rp.34.000 untuk anak, Rp.62.000 untuk motor golongan l, dan Rp.579.000 untuk kendaraan minubus.


Memang tarif yang ditawarkan lebih mahal dibanding tarif di dermaga yang lain, tapi tunggu dulu, harga ini sepadan dengan fasilitas yang ditawarkan.


Parkir yang luas dan aman kita dapatkan dengan hanya membayar Rp.5.000 saja. Di lantai pertama kita akan dimanjakan dengan fasilitas setara mall. Full ac!
Ada berbagai gerai makanan misalkan saja KFC, Es Teler 77 dan Starbucks. Beberapa lainnya sedang dalam  proses renovasi untuk buka. Naik ke lantai dua, kita bisa menggunakan eskalator ataupun lift.




Memasuki lantai dua, mata kita kembali dimanjakan dengan berbagai gerai makanan ringan, kedai kopi dan aneka permainan anak.


Di setiap lantai ada fasilitas kamar mandi yang luas dan bersih. Untuk nursery room pun tersedia.


Tunggu... Kapan kita masuknya??


Hehe.. tenang, di lantai dua ini terdapat loket tempat kita membeli tiket. Dan di sayap sebelah kiri ada berjejer kursi untuk kita menunggu keberangkatan. Tempat tiket, tempat menunggu dan tempat masuk ke kapal, semua diatur seperti layout bandara terminal 3 Soekarno Hatta. Mewah!!
Bahkan menuju dalam kapal pun kita akan menggunakan tangga berjalan seperti layaknya naik pesawat. Untuk yang senang ber swa foto, tempat ini sangat instagramable sekali!



Menyebrang ke Bakahueni di jadwal bisa sampai dalam waktu sekitar satu jam saja bergantung pada cuaca. Keberangkatan kapal dijadwalkan setiap satu jam. Dan dari pelabuhan Bakahueni nantinya akan bisa langsung terhubung dengan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Untuk para pelancong atau pebisnis yang ingin berefektif dalam waktu, moda ini sangat cocok.


Untuk keluarga yang ingin merasakan kenyamanan dan pengalaman baru, Dermaga Eksekutif ini patut dicoba.


Untuk yang hanya ingin sekedar jalan-jalan saja, Dermaga inipun sangat cocok. Kita bisa mengenalkan berbagai macam proses di Dermaga sampai dengan menyeberangnya kapal ke Bakahueni dengan hanya memasuki dermaga saja. Ya benar! Cukup dengan membayar tiket parkir, dan kita bisa berjalan berkeliling dermaga gratis! Kapal pun bisa terlihat jelas karena ruangan dermaga di setting dengan kaca-kaca yang sangat tinggi hampir di seluruh bagiannya.


Jadi, jika ingin berwisata edukasi murah meriah, Dermaga Eksekutif Merak inipun sangat cocok😄.


Sekian review tempat kali ini. Semoga bermanfaat.


Tertarik untuk mencoba??

Minggu, 21 April 2019

Jalan-jalan : Jakarta Aquarium Neo Soho


Oleh : Senny Listy

Kamis sekeluarga mengunjungi Jakarta Aquarium Neo Soho Februari 2018 yang lalu. Sudah jauh-jauh hari mengagendakan kunjungan ke tempat aquarium raksasa untuk mengenalkan aneka satwa air pada Gaza. Memang tidak seluas SeaWorld Ancol tapi akses yang mudah dan lokasi yang tidak terlalu sulit dijangkau menjadi salah satu pertimbangannya.

Jakarta Aquarium terletak di Neo Soho Mall Central Park Jakarta Barat. Akses lokasinya dari Serang sangat mudah. Hanya menumpang elf Serang-Grogol dan langsung bisa berhenti di depan mall-nya dengan biaya transportasi yang sangat terjangkau.


Jakarta Aquarium merupakan anak usaha dari Taman Safari Indonesia yang bekerja sama dengan KLCC Aquaria Malaysia. Tempat rekreasi sekaligus edukasi yang menggabungkan keanekaragaman hayati, kebudayaan, dan teknologi. Di sini terdapat lebih dari 600 jenis satwa laut maupun sungai, termasuk satwa langka dan asli Indonesia, seperti ikan kerapu raksasa berbobot 300 kg ubur-ubur, hiu, ikan pari, reptil, amfibi, berang-berang dan masih banyak lagi.




Ada 12 zona di dalam Jakarta Aquarium yang menampilkan berbagai keindahan makhluk air ciptaan Allah. Si kecil bisa diajarkan tentang Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. Selain itu ada juga pertunjukan teater Pearl of The South Sea dan Wahana 5D Sea Explorer. Jika rela merogoh kantong lebih dalam, kita bisa menikmati sensasi makan bersama hewan pinguin di Pingoo restaurant.

Tiket masuk Jakarta Aquarium ada yang Reguler dan juga Premium yang mencakup wahana 5D Theater. Harga tiket terbaru bisa dilihat di link berikut :
https://travel.tribunnews.com/2019/01/21/info-lengkap-dan-daftar-tiket-jakarta-aquarium-neo-soho-terbaru-2019


Ayoo wisata edukasi bersama si kecil ke Jakarta Aquarium Neo Soho Mall.. Dijamin seruuuu...

*Jakarta Aquarium Neo Soho*
Alamat: Jalan Letjen S. Parman Kav. 28, Jakarta (di dalam Mall Neo SOHO, yaitu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat tepatnya di lantai LG 101 – LGM 101)
Email info@jakarta-aquarium.com
Kontak: (021) 1-500-212
Buka: Setiap Hari (10.00 – 20.00 WIB)

Referensi :
Dokumentasi pribadi
travel.tribunnews.com
www.jakarta-aquarium.com
Google image

Senin, 08 April 2019

Review film Keluarga Cemara


Pemeran :
Widuri sebagai Ara
Ringgo Agus Rahman sebagai Abah
Nirina Zubir sebagai Emak
Adhisty Zara sebagai Euis

Sutradara : Yandy Laurens
Produksi : Visinema Pictures
Durasi : 1 jam 50 menit
Tanggal Rilis : 3 Januari 2019 (Indonesia)
Rating penulis : 8 (skala 1- 10)





Film yang diperankan oleh pemain inti Ringgo Agus Rahman sebagai abah, Nirina Zubir sebagai emak. Anaknya si bungsu Ara/Cemara dan si sulung Euis. Bermula dari keluarga serba ada, saat ulang tahun Euis, emak harap-harap cemas menunggu abah. Alih-alih yang datang bukan abah, melainkan saudara emak beserta rombongan orang yang akan menyita rumah emak dengan segala isinya. Ada kasus yang diperbuat saudara tepatnya adik emak yang menyebabkan semua harta ludes des des.
Sedihnya, saat abah pulang dengan tumpukan rasa lelah, harus menerima kabar ini. Akhirnya mereka berempat tinggal di kantor abah untuk sementara. Hanya baju yang dibawa. Seluruh aset hilang, uang di rekeningpun harus rela dikeluarkan untuk membayar pesangon karyawan abah, semua "dipulangkan".
Singkat cerita, mereka tak bisa lagi hidup di Jakarta, mereka pindah ke rumah warisan orang tua abah di Bogor. Rumah tua, di pedesaan. Sinyal teleponpun akan datang dengan menaiki pohon.
Mulailah kehidupan baru, abah jadi kuli bangunan, Ara dan Euis sekolah di sekolah negeri biasa. Kalau belum menderita, kayaknya sutradara belum puas ya?  Abah mengalami kecelakaan kerja. Kakinya harus ditopang tongkat sekedar untuk berjalan. Sudah tak ada lagi andalan penghasilan. Emak akhirnya turun tangan, jualan keripik. Euis jualan ke SMP nya, walau dengan rasa gengsi dan malu yang tinggi. Bagaimana nggakmalu? Gadis ABG Jakarta yang tergabung di girls dance harus jualan keripik?
Stres mulai melanda setiap orang di keluarga, kecuali Ara, karena masih polos kali ya? Dia enjoy ajaaa ada di kampung. Euis sudah mulai ngeyel kabur ke kota untuk ketemu teman girls dancenya, tanpa sepengetahuan abah dan emak. Emakpun ternyata hamil, dan ia merasa sedih karena akan banyak biaya lagi. Abah sudah mulai emosi terutama dengan perilaku Euis.
Setelah sembuh, abah menjadi ojek online. Tapi kebosanan melanda, wacana balik ke Jakarta muncul kembali dari abah. Rumah warisan ini dijual buat modal pulang. Ada tawaran dari orang kaya yang mau beli rumah itu untuk dijadikan villa katanya. Tapi justru keputusan abah hadir disaat Euis dan Ara sudah mulai menerima kondisi mereka, sudah mulai nyaman dengan lingkungan baru.
Saya suka dengan peran ayah yang dimainkan abah. Sosoknya dekat dengan anak-anak. Padahal, anaknya semua perempuan. Ayah yang sangat stabil emosinya, marah di film itu hanya satu kali, yaitu saat Euis berulah. Sisanya, ketika ada konflik di keluarga, abahlah yang paling bisa mencairkan suasana. Emak juga sangat lembut terhadap anak-anak.
Judulnya keluarga cemara, tapi kisah anak yang dominan diceritakan malah Euis,  saya pikir ganti aja judulnya jadi keluarga Euis tapi mungkin nama Euis kurang menjual?

Untuk anak usia kelas 3SD seperti anakku, bisa ambil hikmah dari film ini. Kata kunci yang ia keluarkan waktu saya minta kesan setelah nonton film ini adalah "bersyukur". Kalau anakku yang usia 4 dan 6 tahun malah bete diajak nonton ini, serunya malah pas muncul tokoh-tokoh humor seperti Asri Welas dan satu lagi temen kecil abah di kampung, kurang hafal pemainnya. Bikin ketawa kalau udah pemeran itu masuk. Tapi klimaks nya biasa aja. Aduk emosi nya di adegan yang bikin sedih atau baper aja, standar sinetronlah tapi nggak sampe bercucuran air mata, beda pas nonton film 212 ada yang bikinin penasaran, ada yang bikin nangis. Kalau film ini nggak sampe ngucur  banget walau adegannya sedih. 


Ditulis oleh : Wiwi Wisudawati
Foto : google