Rabu, 18 September 2019

Siaran Radio : Menyusun Menu Belajar Sesuai STPPA

Oleh : Restu Anjarwati

Mudhowamah dan Restu Anjarwati

Pendahuluan

 Play is the highest form of research – Albert Einstein
Kegiatan bermain merupakan kegiatan utama bagi anak. Hampir di seluruh waktu anak dihabiskan untuk bermain. Namun jangan keliru, anak – anak tidak pernah main – main saat bermain. Karena bermain adalah cara anak untuk belajar. Dengan bermain akan akan menggerakkan otot – ototnya, mengasah kreatifitas dan mengembangkan imajinasinya. Sehingga kegiatan bermain juga merupakan sarana mencapai tumbuh kembang anak.

 Rentang konsentrasi anak yang pendek serta keinginanan anak untuk terus aktif bergerak dan berganti – ganti permainan seringkali membuat orang tua kehabisan ide untuk bermain dan berkegiatan bersama dengan anak. Kemudahan teknologi dan bertebarnya ide permainan di dunia maya justru membuat orang tua kebanjiran informasi yang tak juga menyelesaikan masalah ini. Oleh karena itu, langkah bijak yang perlu dilakukan orang tua adalah dengan mengembalikan tujuan bermain pada pencapaian perkembangan anak.

Pemerintah sudah menyusun secara lengkap tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) dalam lampiran Permendikbud nomor 137 tahun 2014. STPPA ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan anak. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mengarahkan stimulasi yang diberikan kepada anak melalui kegiatan bermain.
Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) merupakan kualifikasi minimal perkembangan anak usia 0 – 6 tahun yang termaktub dalam Permendikbud 137 tahun 2014. Di dalam STPPA ini termuat parameter – parameter capaian anak berdasarkan kategori umurnya : 0 – 3 bulan, 3 – 6 bulan, 6 – 9 bulan, 9 – 12 bulan, 12 – 18 bulan, 18 – 24 bulan, 2 – 3 tahun, 3 – 4 tahun, 4 – 5  tahun dan 5 - 6 tahun. Parameter capaian dalam STPPA meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosio-emosional, dan seni.

Menurunkan STPPA Menjadi Menu Belajar Anak

Walaupun STPPA ini sangat lengkap, namun tidak dapat langsung dipakai karena cakupannya sangat luas dan kurang spesifik. Selain itu, perkembangan dan ritme belajar anak berbeda-beda, sehingga membutuhkan kegiatan pembelajaran yang berbeda - beda pula. Oleh karena itu, STPPA perlu diturunkan menjadi kompetensi dasar yang kemudian dikembangkan menjadi menu belajar anak.

Menurunkan STPPA menjadi kompetensi dasar anak dapat dilakukan dengan menerjemahkan STPPA menjadi kalimat yang terdiri dari S (subjek), P (predikat), O (objek) dan K (keterangan). Subjek adalah anak, predikat berarti kegiatan yang dilakukan oleh anak, Objek merupakan alat yang digunakan oleh anak, keterangan adalah cara anak melakukan kegiatan, pengulangannya atau keterangan tempatnya.

Sebagai contoh STPPA usia 3-4 tahun dengan lingkup perkembangan kognitif. Dalam STPPA dituliskan: Menempatkan benda dalam urutan ukuran (paling besar - paling kecil). Hal yang perlu kita cermati adalah:

Benda yang dimaksudkan perlu didefinisikan dengan jelas
  1. Jumlah benda yang akan diurutkan harus kita tentukan
  2. Urutannya harus ditentukan dari yang paling besar atau yang paling kecil
  3. Cara mengurutkannya dengan ditata pada nampan, atau di atas kertas atau di alas kerja
Dari hal - hal tersebut maka kita dapat merumuskan kompetensi dasar sebagai berikut: “Mengurutkan 3 buah bola sama warna dengan ukuran yang bervariasi di dalam nampan dari ukuran paling besar hingga paling kecil lalu mengurutkannya kembali dari ukuran paling kecil hingga paling besar”

Dari sebuah kompetensi dasar, maka dapat disusun variasi kegiatan dengan level kerumitan yang semakin tinggi. Sehingga anak akan mampu mengembangkan keterampilannya secara bertahap. Contoh variasi kegiatan dari kompetensi dasar tersebut adalah:
  • Mengurutkan 5 buah bola sama warna dengan ukuran yang bervariasi di dalam nampan dari ukuran paling besar hingga paling kecil lalu mengurutkannya kembali dari ukuran paling kecil hingga paling besar.
  •  Mengurutkan 5 buah printable pohon dengan ukuran yang bervariasi dan menempelkannya pada sebuah kertas dari ukuran paling besar hingga paling kecil
  • Mengurutkan 5 buah koleksi model dinosaurus dengan ukuran yang bervariasi dinatas alas kerja dari ukuran paling kecil hingga paling besar dan mengurutkannya kembali dari ukuran paling besar hingga paling kecil.
Variasi - variasi kegiatan ini selanjutnya dituangkan dalam menu belajar harian.

Pelaksanaan dan Penilaian Menu Belajar Anak

Untuk menilai kemampuan anak, digunakan kriteria sesuai Permendikbud No. 146 tahun 2014 yaitu:
  • BB (Belum Berkembang) Bila anak melakukannya harus dengan bimbingan atau dicontohkan oleh guru.
  • MB (Mulai Berkembang) Bila anak melakukannya masih harus diingatkan atau dibantu oleh guru.
  • BSH (Berkembang Sesuai Harapan) Bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan konsisten tanpa harus diingatkan atau dicontohkan oleh guru
  • BSB (Berkembang Sangat Baik) Bila anak sudah dapat melakukannya secara mandiri dan sudah dapat membantu temannya yang belum mencapai kemampuan sesuai indikator yang diharapkan.
Menu belajar harian bukanlah sebuah jadwal kaku yang harus ditaati setiap harinya. Menu belajar adalah sajian judul - judul kegiatan anak yang merujuk pada kompetensi dasar sesuai dengan STPPA. Menu belajar ini disusun dalam jangka waktu dan jumlah kegiatan tertentu sesuai dengan perkembangan anak dan kesiapan orang tua. Biasanya menu belajar disusun 30 - 40 kegiatan untuk rentang waktu 2 - 3 bulan. Menu harian ini bersifat sangat fleksibel pada kecepatan dan kemampuan anak. Direncanakan untuk rentang waktu 2 bulan, namun jika anak sedang sangat senang belajar maka bisa diselesaikan lebih cepat dan jika motivasi belajar anak sedang turun, bisa jadi diselesaikan dalam 3 - 4 bulan.

Pelaksanaan menu belajar ini disesuaikan dengan kecepatan belajar anak. Dalam setiap harinya, kami berusaha melibatkan anak untuk memilih sendiri kegiatan belajarnya sehingga kami berharap tercipta kepemilikian proses belajar, anak merasa bahwa belajar adalah hal yang ia miliki, ia pilih sendiri, menjadi tanggung jawabnya dan manfaat belajar adalah miliknya. Bukan atas suruhan orang tua dan manfaatnya bukan untuk orang lain.

Simpulan
Penyusunan kompetensi dasar dan menu belajar ini mungkin terlihat rumit. Namun perlu dicoba oleh setiap orang tua yang menginginkan pembelajaran anak di rumah dengan baik. Anak tak sekedar bermain hal yang sama setiap harinya namun bermain dan berkegiatan dalam rangka mencapai tujuan perkembangannya. Sehingga akan membuat anak kaya pengalaman belajar yang menyenangkan dan tanpa paksaan walaupun masih usia dini. Perkembangan anak pun akan sesuai dengan usianya karena semua aspek perkembangan mendapatkan stimulasi yang optimal.

Sumber bacaan:
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 137 tahun 2014
Materi kelas intensif homeschooling bersama Nurmayanti Zain
Q


Baca juga artikel terkait

Selasa, 16 Juli 2019

Bijak Ajak Anak Menonton di Bioskop


Assalamualaikum ibu profesional Banten, siapa nih yang kemarin nggak sempat mendengarkan siaran bu Restu Dan bu Tia di radio? Jangan sedih, Kita baca Aja yuk materinya disini.

Menonton film, terutama di bioskop dapat menjadi aktivitas pelepas stress yang menyenangkan. Apalagi jika pergi ke bioskop bersama orang – orang tercinta. Namun sayangnya, orang tua yang memiliki anak balita seringkali kesulitan untuk dapat menonton film di bioskop. Mengajak anak kecil ke tempat umum memang membutuhkan kerja ekstra. Tidak seperti orang dewasa yang mampu duduk diam dalam waktu lama, anak – anak cenderung cepat bosan. Namun tidak semua orang memiliki “kemewahan” bisa menitipkan anak mereka pada orang tua atau pengasuh. Alhasil sebagian orang tua memutuskan membawa anak mereka ke bioskop.
Kini semakin banyak orang tua yang membawa balita bahkan bayi ke dalam bioskop. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: Bolehkah mengajak bayi ke bioskop? Kapan sebenarnya anak bisa ikut ke bioskop bersama orang tuanya?
Hingga saat ini, perdebatan mengenai boleh atau tidaknya bayi (di bawah usia 1 tahun) dibawa ke bioskop belum mencapai titik terang. Ada orang tua yang menganggap boleh-boleh saja, namun tidak sedikit yang dengan ketat melarang bayi berada di bioskop, mulai dari alasan kesehatan hingga urusan etika orang tua di bayi itu sendiri.
Psikolog anak, Ratih Zulhaqqi, termasuk salah satu orang yang melarang orang tua untuk membawa bayinya ke bioskop. Menurutnya, membawa bayi ke bioskop menandakan buruknya kontrol diri orang tua yang tidak mendahulukan kepentingan anak di atas kepentingan pribadinya. Pasalnya, jika ibu ingin hiburan untuk melepas stres selama berada di rumah, ibu bisa menonton film lewat streaming atau memilih hiburan lain.
Meski banyak mengundang kontroversi, tidak sedikit ibu yang beralasan bahwa mereka butuh untuk melakukan aktualisasi diri, salah satunya dengan pergi ke bioskop. Ibu pantas mendapat hiburan dalam bentuk apapun demi menghindari stres dalam merawat bayi, terlebih jika ibu tidak memiliki asisten dalam mengurus bayi.

Perspektif literasi media

Pada bulan April 2019 lalu, WHO mengeluarkan satu set guidelines terbaru tentang perkembangan bayi dan anak terkait paparan media berlayar dan rekomendasi screen time untuk mereka. Salah satu yang harus di-highlight adalah pembahasan mengenai bayi (di bawah usia 1 tahun seharusnya tidak terekspos layar dari media elektronik, tak terkecuali layar lebar (bioskop). Guidelines ini berasal dari penelitian-penelitian terkait di bidang kesehatan anak yang dilakukan selama bertahun-tahun yang juga menguatkan rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) yang melarang paparan layar elektronis untuk anak di bawah usia 2 tahun. Dalam guidelines versi WHO ini menyebutkan bahwa membatasi atau bahkan mengeliminasi screentime untuk anak di bawah usia 5 tahun akan menciptakan masa dewasa yang lebih sehat dan bahagia.
Di Indonesia sendiri memang belum ada kajian se-komprehensif seperti yang dilakukan AAP apalagi WHO. Namun para aktivis literasi media bersama hasil kajian-kajian psikologi cenderung untuk melarang paparan layar elektronis bagi anak. Sedangkan dalam kasus film bioskop, hal ini diperkuat dengan lemahnya regulasi dari pemerintah maupun kesadaran dari pengusaha bioskop untuk mengatur pembelian tiket yang disesuaikan dengan klasifikasi usia sebuah film. Pemerintah yang dalam hal ini berwujud LSF (lembaga sensor film) hanya mengkaji, melakukan sensor, dan memberikan klasifikasi usia SEBELUM film tersebut tayang di bioskop. Namun kebijakan penjualan tiket adalah milik pengusaha bioskop sepenuhnya.
Maka dari itu, posisi orang tua menjadi krusial dalam hal ini. Pilihan mengajak anak usia bayi dan balita ke bioskop makin pun makin menjadi sesuatu yang populer. Namun apakah film yang dipilih oleh orang tua untuk hiburan keluarga mereka ini sudah sesuai dengan usia seluruh anggota keluarga? Atau malah fungsi menonton bioskop adalah hiburan bagi orang tua yang ingin menonton film populer atau aktor favorit tanpa aktif memikirkan apakah konten film tersebut aman untuk anak. Jadi siapa menemani siapa?
Di dunia sinematografi, dikenal istilah klasifikasi usia. Hal ini akan berhubungan dengan target penonton dan distribusi film. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian klasifikasi usia bagi sebuah film dipengaruhi oleh jalan cerita (yang tidak menyinggung SARA atau berpotensi menimbulkan konflik atau mungkin apakah sekedar terlalu njelimet untuk penonton pahami), adegan kekerasan, adegan seksual, nudity, hingga dialog kasar.
Di Indonesia pemberian klasifikasi usia dilakukan oleh LSF yang akan mengeluarkan STLS (surat tanda lulus sensor) yang menyertakan kode-kode klasifikasi usia. Kode ini wajib untuk diperlihatkan dalam review di situs distributor film, tiket penjualan dan ditayangkan sebelum film dimulai. Terdapat lima kode yang harus orang tua hafal dan menjadi bahan pertimbangan saat memilih film yang akan ditonton bersama anak di bioskop. Kelima kode tersebut adalah:
  1. SU (semua umur): Ada unsur pendidikan, budaya, budi pekerti atau hiburan sehat. Juga tidak mengandung adegan atau dialog kekerasan, seks, takhayul, horor/sadis yang dapat mengganggu perkembangan anak. Beberapa film keluarga dengan klasifikasi usia ini antara lain: Keluarga Cemara, Kulari ke Pantai, Koki-koki Cilik.
  2. 13+ (13 tahun ke atas): berisi tema tentang kehidupan peralihan anak menjadi remaja. TETAPI tidak boleh menampilkan adegan atau dialog yang rawan ditiru remaja seperti pergaulan bebas atau penggunaan narkoba.
  3. 17+ (17 tahun ke atas): Ada nilai pendidikan budi pekerti. Terdapat adegan atau dialog yang memasukan unsur seksual asalkan proporsional dan bagian dari edukasi. Adegan atau dialog kekerasan pun ditampilkan asal tidak ada unsur sadisme.
  4. 21+ (21 tahun ke atas): Judul, tema, adegan ditujukan untuk dewasa. Tetapi adegan seksual aupun sadisme tentunya sudah hasil sensor. Bahasa yang vulgar pun acapkali ditampilkan karena dengan sasaran usia ini, penonton dinilai cukup matang untuk menilai dengan bijak.
Klasifikasi usia ini baru ditetapkan tahun 2014, mungkin pada saat kita kecil lebih dikenal dengan istilah SU, R (remaja), dan D (dewasa atau 17 tahun ke atas). Sedangkan untuk film-film yang diimpor dari luar negeri, pemberian klasifikasi usia ini tetap diberikan oleh LSF jika akan ditayangkan di bioskop Indonesia. Namun sebagai bahan rujukan, ayah bunda juga bisa mencari tahu klasifikasi usia sebuah film versi Hollywood melalui situs film tersebut atau IMDb.com yang memiliki fitur parental guide dimana kita bisa tau adegan/dialog apa yang berpotensi berbahaya untuk anak.
Jika di Indonesia kita memiliki 4 klasifikasi usia, untuk versi Hollywood yang syarat klasifikasi usia dikeluarkan oleh MPAA (Motion Picture Association of America). Ada 5 kode yaitu: G (general audiences/semua umur), PG (parental guidance suggested/perlu pendampingan orang tua), PG 13 (remaja meskipun dan orang tua harus mendampingi karena film jenis ini memiliki material yang inappropriate untuk remaja), R (restricted. Mengandung adult material), dan NC 17 (hanya untuk dewasa di atas 17 tahun).
Pemerintah melalui LSF atau lembaga yang terkait dengan anak mendorong orang tua untuk melakukan sensor mandiri dengan program MMT (memilah dan memilih tontonan) sebelum membeli tiket bioskop. Tentunya hal ini bukan tanpa sebab karena mereka sudah mempertimbangkan efek buruk apa yang akan terjadi pada anak jika terpapar tontonan yang tidak diperuntukan untuk usianya.
Hal lain yang bisa dilakukan oleh orang tua terkait mengajak anak menonton bioskop adalah membudayakan diskusi baik sebelum dan sesudah menonton bioskop. Tentunya hal ini hanya bisa dilakukan kepada anak yang berusia di atas 5 tahun ya. Hal ini untuk membiasakan orang tua dan anak untuk aktif membahas sebuah film baik tentang kontennya ataupun perasaan/pendapat anak mengenai apa yang ia tonton. Terutama jika dalam film tersebut ada adegan kekerasan. Adegan inilah yang paling potensial dan sangat cepat untuk ditiru anak. Sedangkan untuk anak di bawah usia tersebut, orang tua harus sangat aktif dan cermat mengamati bagaimana reaksi anak saat dan sesudah menonton. Apakah ada perubahan yang signifikan setelah dibawa ke bioskop? Hal ini tentunya berkaitan dengan perkembangannya secara keseluruhan.

Dampak terhadap perkembangan bayi dan balita

  1. Suara keras memberikan efek buruk bagi bayi dan balita
    Bayi dan balita cenderung memiliki pendengaran yang sangat sensitif. Hal ini disebabkan oleh kondisi bayi yang memang sangat memperhatikan suara-suara yang ada di sekitarnya sebagai salah satu cara untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan sering mendengar suara dengan tingkat desibel yang tinggi, maka bagian dalam telinga bayi, khususnya koklea, bisa mengalami kerusakan.
    Meskipun bayi tidak rewel atau tidur selama film di bioskop diputar, kerap membawa bayi menonton film bisa merusak pendengaran mereka dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh nyaringnya suara yang ada di dalam bioskop. Suara yang ada di dalam bioskop bisa mencapai 85 desibel (db) dan  level suara ini bahkan bisa meningkat jika di dalam film terdapat suara ledakan atau teriakan, seperti suara tembakan, tabrakan, suara mengagetkan dan lainnya bisa mencapai angka 98db yang setara dengan suara kereta lewat atau suara take off pesawat terbang. Film animasi 'Stork' yang ditujukan untuk anak-anak memiliki kisaran suara 85db, tetapi ada satu adegan dengan suara yang mencapai 99.3db. Sedangkan, film 'Deepwater Horizon' yang penuh dengan adegan ledakan memiliki suara yang mencapai 104.9db.
Para ahli dari American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa jika sampai bayi sering mendengarkan suara hingga lebih dari 45 desibel, maka resiko untuk mengalami gangguan akan meningkat. Bahkan, jika bayi sampai mendengar suara dengan level 90 desibel atau lebih selama 15 menit, maka mereka akan lebih rentan terkena gangguan pendengaran yang permanen. Toleransi kebisingan maksimal yang dapat diterima oleh anak kecil adalah 85db, sedangkan untuk bayi berada pada kisaran 50db. Suara percakapan normal (bukan di bioskop) berkisar di angka 60db. Paparan suara di atas 85 desibel dalam jangka waktu lama, terutama pada anak kecil, dapat mengakibatkan Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) atau hilangnya kemampuan pendengaran karena faktor kebisingan).

  1. Dampak traumatik dan hiposensitif
Paling aman membawa anak ke bioskop adalah saat anak berusia di atas 7 tahun. Pada usia ini anak sudah mengerti jalan suatu cerita dan bisa duduk tenang lebih dari 1 jam.  Menurut ahli Psikologi Swiss, Jean Piaget. Perkembangan kognitif anak terdiri dari 4 tahap yakni tahap sensorimotor (0-2) tahun, tahap praoperasional (8 - 7 tahun) tahap operasional konkrit (7-12 tahun) dan tahap operasional formal (12-18 tahun)
Pada tahap sensorimotor, perkembangan kognitif anak masih dalam tahap awal. Pengalaman pertama sangat penting bagi anak. Jika anak melihat atau mendengar sesuatu yang membuat anak merasa tidak nyaman seperti suara menggelegar di bioskop di dalam sebuah ruangan gelap, bisa jadi membuat pengalaman traumatis bagi anak. Sebaliknya, jika anak dibiasakan menonton film di bioskop maka anak bisa mengalami hiposensitif dengan suara keras sehingga tidak peduli dengan suara di lingkungannya. Jadi bisa disimpulkan bahwa membawa anak di bawah usia 2 tahun akan berakibat buruk bagi perkembangan kognitifnya.
Pada tahap operasional  konkret, anak sudah mulai menggunakan aturan – aturan yang jelas dan logis. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis meskipun hanya pada benda yang bersifat konkrit. Karena itu, usia 7 tahun dianggap sebagai usia yang tepat untuk mengajak anak menonton film di bioskop/ Anak sudah mengikuti urutan film dan menggunakan pemikiran logis.
  1. Dampak perkembangan perilaku
Jika dikaitkan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, penalaran seorang anak terbagi menjadi tiga yakni penalaran prakonvensional, konvensional dan pascakonvensional.
Bayi dan balita masih menjalani tahap penalaran prakonvensional yaitu penalaran moral berdasarkan imbalan dan hukuman eksternal. Saat inilah balita akan memahami konsep kepatuhan dan hukuman. Saat anak patuh maka tidak akan ada hukuman. Pada tahap ini, anak belum bisa membedakan perilaku baik dan buruk sehingga saat mengajak anak menonton film yang mengandung unsur kekerasan (meskipun film kartun), anak bisa saja langsung meniru karena belum memiliki kemampuan untuk membedakan perilaku baik dan buruk. Jika anak terbiasa melihat adegan kekerasan maka anak akan menyadari tidak ada hukuman atas kekerasan tersebut dan anak akan mengikuti perilaku tersebut

Tips Membawa bayi dan balita ke bioskop

Idealnya, anak-anak, terutama bayi dan balita tidak boleh dulu diajak nonton bioskop sampai mereka benar-benar siap. Siap dalam artian perkembangannya sudah matang, dan siap secara psikologis untuk mencerna tayangan yang tersaji di layar.
  1. Sebagai orang tua, tetap berfikir aktif dan kritis untuk memilah tempat hiburan yang nyaman dan cocok untuk anak, terutama bayi dan balita.
  2. Jika sangat terpaksa harus mengajak bayi dan balita nonton bioskop, bawalah anak ke bioskop yang memiliki fasilitas bioskop khusus untuk anak dan keluarga. Bioskop ini telah menyesuaikan tingkat volumenya lebih rendah serta pencahayaan yang lebih terang agar sesuai dengan kebutuhan anak. Pun pemilihan film yang memang hanya diperuntukan untuk anak.
  3. Hindari untuk menonton film dengan klasifikasi usia dewasa atau remaja. Karena secara konten, film jenis ini tentunya tidak pantas untuk ditonton bayi dan balita. Meskipun secara general mereka belum paham dengan apa yang tersaji, namun paparan konten dewasa dapat mempengaruhi perkembangan kognitif mereka.
  4. Baca review film terlebih dahulu, menonton trailer dan minta pendapat orangtua lain yang sudah pernah menontonnya, apakah konten film tersebut sesuai untuk Si Kecil atau adakah adegan yang tidak pantas untuk mereka tonton..
  5. Pemilihan waktu untuk menonton film disesuaikan dengan rutinitas anak. Misal jangan saat jam tidur siang atau malah terlalu malam. Hal ini bisa menyebabkan anak cranky dan mengganggu rutinitas tubuhnya.
  6. Datanglah lebih awal dan ajak Si Kecil berkeliling. Ini akan membuat Si Kecil beradaptasi dengan lingkungan baru dan merasa nyaman.
  7. Anda juga bisa memasangkan sumbat telinga pada si kecil untuk mencegah risiko gangguan pendengaran pada bayi.
  8. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda bosan atau tidak nyaman, segeralah keluar dari bioskop untuk menenangkannya sebelum anak mulai rewel. Suasana yang tidak nyaman, ditambah dengan suara berisik yang ia dengar dari tayangan tersebut dapat membuatnya semakin rewel.
  9. Hindari menonton film dalam bentuk 3D, dan pilihlah film  reguler.
  10. Bawa mangkuk kecil untuk meletakkan sebagian popcorn untuk Si Kecil..
  11. Hindari membawa Si Kecil ke bioskop yang penontonnya terlalu ramai. Bisa jadi Si Kecil akan merasa kurang nyaman.
  12. Pilih kursi yang dekat dengan pintu keluar. Ini akan memudahkan Anda membawa Si Kecil keluar apabila ia rewel dan tantrum sehingga tidak mengganggu pengunjung yang lain. Namun jika kursi tersebut sangat dekat dengan layar, setidaknya pilih kursi yang paling memudahkan kita keluar.
  13. Meskipun tujuan orang tua datang ke bioskop adalah untuk menonton film, namun jika si kecil mulai tidak nyaman dan sukar dikendalikan, jangan sisihkan mereka apalagi menghitung kerugian tiket yang sudah dibeli. Pasti selalu ada konsekuensi.

Simpulan
Meskipun kebijakan dan pengawasan penjualan tiket film bioskop yang masih lemah dapat memungkinkan untuk Anda menonton film dengan membawa bayi, anak di bawah umur, atau menonton film dengan rating yang kurang sesuai, tanggung jawab tetap berada di tangan Anda. Harus tetap melakukan sensor mandiri bahkan dimulai dari pikiran. Untuk para orangtua, terutama para ibu, apalagi yang merupakan penggemar film, menonton bioskop memang menjadi waktu me-time yang sangat penting. Happy mother makes a happy child, right? Namun, ada beberapa alternatif yang dapat Anda lakukan untuk menghindari potensi bahaya kesehatan baik fisik maupun psikologis dari menonton bioskop pada anak, misalnya menonton bergantian dengan sang suami, menitipkan anak pada kerabat, atau menonton DVD di rumah, yang juga tak kalah seru.

Referensi:
https://www.google.com/amp/s/doktersehat.com/dampak-membawa-bayi-ke-bioskop/amp/
https://www.motherandbaby.co.id/article/2017/3/11/7789/7-Tips-Mengajak-Balita-ke-Bioskop
https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/7-tips-saat-membawa-bayi-ke-bioskop
https://www.google.com/amp/s/journal.sociolla.com/lifestyle/membawa-bayi-ke-bioskop/amp/

Disusun untuk Ruang Keluarga Harmony FM hari Rabu tanggal 10 Juli 2019 oleh:
  1. Restu Anjarwati
  2. Meiftia Eka P

Senin, 08 April 2019

Rumah Ramah Anak




Memiliki rumah adalah kebutuhan primer bagi setiap keluarga, entah itu rumah pribadi, rumah menyewa maupun rumah bersama orang tua, keberadaan rumah tetap harus terpenuhi untuk mendukung kehidupan keluarga. Beberapa orang yang memiliki minat dan bakat dalam mengelola ruangan, bahkan menggunakan rumah sebagai salah satu media berekspresi dengan pemilihan perabot, padu padan warna dan corak dinding hingga tambahan berbagai pernak - pernik yang menarik. Di dalam suatu kesatuan keluarga, anak adalah salah satu personil yang juga menggunakan rumah sebagai pendukung kehidupannya.

Lain halnya dengan orang dewasa yang menggunakan rumah sebagai tempat berlindung, anak - anak menggunakan rumah sebagai tempat bereksplorasi yang menyenangkan dan tiada habisnya. Dari sebuah ruangan dalam rumah saja anak akan mendapatkan begitu banyak pembelajaran dan keterampilan.Di dalam rumah, anak yang dekat dengan orang tuanya akan selalu melihat aktivitas kehidupan keseharian. Di pagi hari, ia akan melihat sang ibu yang sibuk di dapur, hingga akhirnya malam hari akan menjadi waktu santai di kamar tidur. Anak yang merupakan peniru ulung seringkali ingin bekerja seperti halnya orang dewasa. Namun lingkungan rumah yang tidak mendukung aktifitas anak dapat membuat anak memperoleh kesulitan tambahan dalam beraktifitas.


Rumah ramah anak adalah rumah yang mampu menyediakan kebutuhan eksplorasi anak dan menawarkan peralatan yang mudah dioperasikan oleh anak terutama untuk mendukung anak bisa mengerjakan sendiri. Misalkan kursi yang sesuai dengan tinggi anak sehingga anak mudah dan nyaman menggunakannya.

Rumah ramah anak ini begitu penting, karena sebagai orang dewasa pun kita tentu tidak dapat beraktifitas dengan maksimal jika menggunakan peralatan yang tidak sesuai dengan ukuran kita. Rumah ramah anak ini juga meliputi keadaan yang mendukung pada saat proses aktifitas misalkan mematikan TV, merapikan dan membersihkan mainan, dll. Menyiapkan rumah ramah anak tidak perlu muluk penuh dengan dekorasi kekinian ala selebgram. Sebagai awalan, kita perlu menyiapkan satu ruangan atau sudut rumah yang didedikasikan khusus untuk eksplorasi anak. Selanjutnya bisa merambah ke bagian lain seperti kamar, dapur, ruang tamu dan ruang keluarga hingga akhirnya seluruh sudut rumah dapat diupayakan untuk memaksimalkan kemandirian anak.

Ruang Eksplorasi Anak
Pada ruang ini, upayakan mainan / kegiatan tersaji dalam rak terbuka yang rendah sehingga anak mudah melihat, kemudian diharapkan tertarik mencoba serta mudah mengakses sendiri benda - benda dan kegiatan yang diinginkannya. Mainan / kegiatan anak ini sebaiknya dirotasi setiap beberapa saat bergantung pada ketertarikan anak sedangkan mainan lain yang sedang tidak dipajang dapat disimpan ditempat tersendiri.

Ruang Membaca
Kita dapat menyediakan pojok baca anak dengan rak menghadap ke depan disertai buku - buku yang menarik. Buku buku menarik tidak harus selalu membeli namun bisa juga meminjam ke perpustakaan daerah. Seperti halnya mainan, buku ini juga dirotasi sesuai topik yang sedang disukai anak. Jika buku terlalu banyak seringkali anak menjadi bingung dan kurang tertarik.

Kamar Mandi 
Usahakan anak dapat mencuci tangan sendiri. Jika menggunakan wastafel maka siapkan steep stool atau bangku kecil yang aman. Letakkan sabun, pasta gigi, sikat gigi pada rak yang mudah digapai anak. Dan jaga kebersihan kamar mandi agar tidak licin.

Dapur
Ada sebagian orang yang menganggap dapur bukankah tempat untuk anak - anak. Namun justru di dapur lah anak akan mendapat begitu banyak pengalaman nyata yang mengasah keterampilan hidupnya. Aktivitas anak di dapur sangat butuh asistensi penuh dari orang tua karena ada banyak peralatan berbahaya yang ada di dapur. Penggunaan bangku atau step stool akan membuat anak berdiri dengan aman di dapur. Dan perlu pula disiapkan suatu area khusus anak yang dapat digunakan untuk meletakkan makanan ringan dan minuman anak sehingga anak dapat mengambilnya secara mandiri. Di suatu waktu, anak dapat diajak berkegiatan di dapur seperti membuat jus, membuat sarapan, menyiapkan camilan dan lain sebagainya. Kegiatan - kegiatan sederhana seperti ini dapat mengasah  motorik halus, kemampuan merencanakan dan berfikir logis.

Kamar Anak
Walaupun anak belum tidur terpisah dari orang tua, jika tersedia kamar yang tidak terpakai, ada baiknya menyiapkan kamar pribadi untuk anak. Kamar pribadi anak ini dapat melatih anak untuk bertanggung jawab merawat area pribadinya. Selain itu kamar anak dapat mengokohkan keunikan kepribadiannya dengan membuat kamar menjadi sesuai keinginan anak. Walaupun anak harus berbagi kamar dengan saudaranya, tetap usahakan anak memiliki sudut dirinya sendiri. Untuk anak balita disarankan menggunakan kasur yang diletakkan dilantai, sedangkan untuk anak yang lebih besar dapat menggunakan tempat tidur yang rendah. Berilah alas dari karpet yang empuk ataupun karpet eva sehingga memungkinkan anak bereksplorasi dengan aman dan nyaman. Sediakan pula dinding kosong untuk memajang hasil karya anak untuk menumbuhkan kebanggan dan rasa percaya diri anakJadi, sudah siapkan menyiapkan lingkungan rumah yang mendukung aktifitas dan kemandirian anak? Karena sejatinya, anak adalah manusia yang perlu beraktifitas dengan caranya. Kita siapkan lingkungan rumah yang mendukung, maka anak akan beraktifitas mandiri dengan lebih mudah dan menyenangkan.

A prrson is a person, no matter how smallDr. Seuss: Horton Hears a who!


Disusun sebagai materi siaran Ibu Profesional Banten di Radio Harmony 19 Desember 2018, 
oleh:- Restu Anjarwati
    - Maria UlfahSumber 

bacaan:- Elvina Lim Kusumo : Montessori di Rumah, 55 kegiatan keterampilan hidup- Leasley Britton : Montessori play and learnx
x

Rabu, 03 April 2019

Keluarga Siaga Bencana


Indonesia terletak di kawasan cincin api pasifik yang secara geografis dan klimatologi mempunyai tantangan untuk melindungi dan memperkuat masyarakat dari ancaman resiko bencana. Pergerakan tiga lempang tektonik besar yakni lempang Indoaustralia di bagian selatan, lempeng Samudera Pasifik di sebelah timur dan lempeng Eurasia di sebelah utara dan disertai 5.590 daerah aliran sungai mengakibatkan resiko bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api dan tanah longsor.

Tingginya jumlah masyarakat terpapar ancaman bencana dan kemungkinan dampak kerusakan, kerugian lingkungan menunjukkan bahwa masyarakat terutama keluarga perlu meningkatkan pemahaman resiko bencana sehingga dapat mengetahui bagaimana harus merespon dalam menghadapi situasi darurat. Masalah mendasar yang ditemukan di masyarakat diantaranya adalah belum mengetahui ancaman dan informasi peringatan dini, lokasi titik kumpul, dan arah jalur evakuasi baik di rumah maupun di luar rumah, panik dan tergesa – gesa saat kejadian bencana.

Pada situasi darurat, diperlukan pengambilan keputusan yang tepat dan cepat untuk mengurangi resiko. Seluruh anggota keluarga harus membuat kesepakatan bersama agar lebih siap siaga menghadapi situasi darurat bencana. Rencana kesiapsiagaan keluarga (family preparedness plan) harus disusun dan dikomunikasikan dengan anggota keluarga dirumah, kerabat yang ada dalam kontak darurat serta mempertimbangkan system yang diterapkan di lingkungan sekitar dan pihak berwenang. Skenario kejadian dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga dan berbagi peran dalam setiap skenarionya sesuai dengan jenis bahaya yang mengancam, Bila rencana sudah disepakati, maka perlu dilakukan simulasi secara berkala agar tidak panik dalam situasi darurat. Siap untuk Selamat.

Kenali Resiko Bencana di Sekitar Anda
Resiko bencana disekitar kita dapat kita kenali dengan mengakses informasi ancaman bencana dari BNPB yang dapat diakses di inarisk.bnpb.go.id dan juga dapat diakses dengan aplikasi mobile yang dapat diunduh di playstore dan iOS

Membuat rencana kesiapsiagaan bencana untuk keluarga
Rencana kesiapsiagaan bencana adalah perencanaan yang dibuat oleh keluarga untuk siap dalam kondisi darurat akibat bencana baik saat di dalam rumah ataupun diluar rumah. Rencana ini harus dipahami dan disetuji oleh setiap anggota keluarga.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rencana kesiapsiagaan keluarga adalah :
  1. Mengetahui ancaman bencana yang ada di sekitar
  2. Mengetahui cara melindungi diri jika terjadi bencana
  3. Mengenali bagian dari rumah yang dapat dijadikan perlindungan
  4. Menghindari bagian rumah yang beresiko membahayakan
  5. Mengetahui jalur evakuasi yang disepakati
  6. Mengetahui titik kumpul di luar rumah yang telah disepakati
  7. Menyiapkan perlengkapan standaar keadaan darurat bencana untuk keluarga
  8. Mencatat nomer telepon setiap anggota keluarga
  9. Mencatat nomor – nomor penting untuk keadaan darurat bencana
  10. Mencatat nomor – nomor penting terkait aktifitas setiap anggota keluarga
  11. Mempraktekkan rencana kesiapsiagaan yang telah disepakati
  12. Evaluasi praktek simulasi rencana kesiapsiagaan keluarga
  13. Melakukan penyesuaian ulang rencana sesuai dengan kondisi terakhir ancaman bencana, perubahan anggota keluarga dan kondisi rumah

Perlengkapan kesiapsiagaan bencana
Perlengkapan kesiapsiagaan bencana adalah satu paket perlengkapan kebutuhan dasar yang disiapkan seelum terjadi bencana untuk dipergunakan pada keadaan darurat bencana selama 3 x 24 jam. Perlengkapan ini berguna untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga pada kondisi tdak ada bantuan sama sekali.
Perlengkapan kesiapsiagaan bencana terdiri dari:
  1. Makanan yang tahan lama dan mudah dibawa
  2. P3K dan obat – obatan sederhana
  3. Dokumen penting dalam map plastik tertutup rapat (salinannya bsa dititipkan pada kerabat beda kota yang dapat dipercaya)
  4. Lampu senter dan batere cadangan
  5. Lilin dari korek api
  6. Peluit
  7. Baju ganti dan selimut
  8. Jas hujan plastik
  9. Powerbank
  10. Pulpen dan notes
  11. Air minum
  12. Untuk bayi: bubur bayi, susu bubuk, minyak, diapers
  13. Jika ada orang tua dan sakit menahun siapkan obat – obatan cadangan
  14. Personal hygine
Perlengkapan ini diperiksa setiap tiga bulan sekali dan ganti makanan dan minuman dengan yang baru

Aplikasi andoid dan IOS yang dapat membantu kesiapsiagaan:
  1. Magma Indonesia
  2. BMKG
  3. BNPB
  4. BNPB TV
  5. INA RISK
  6. Siaga Bencana
  7. Life360
Download Buku Pedoman Kesiapsiagaan Keluarga di www.siaga.bnpb.go.id
Kesimpulan
Kita harus mengenali ancaman bencana yang ada di sekitar kita lalu persiapkan diri dan keluarga kita menghadapi situasi darurat bencana, Dengan begitu resiko keselamatan dapat dikurangi.

Sebaik apapun persiapan kita dalam menghadapi situasi darurat bencana, Namun kuasa Tuhan lah yang menentukan keselamatan diri kita dan keluarga. Maksimalkan rencana lalu sempurnakan dengan doa.

Disusun untuk Ruang Keluarga Harmony FM tanggal 26 Desember 2018 oleh:
  • Restu Anjarwati
  • Wiko Adi Nugroho

Sumber Bacaan:
Buku Pedoman Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga yang diterbitkan oleh Direktorat Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggunalangan Bencana

Kamis, 14 Maret 2019

Belajar Zerowaste dari Rumah

Belajar Zerowaste dari Rumah
Assalamualaikum ibu pembelajar, ada yang baru nih dari kami, mulai sekarang kami akan mulai membagikan ulang beberapa materi siaran yang pernah dibawakan member IP Banten di radio Harmoni FM, pembahasannya seputar keluarga dan pengasuhan, untuk materi yang pertama ini tentang gaya hidup minim sampah atau zerowaste. Apa sih zerowaste? Bagaimana cara memulainya? Apa yang harus kita lakukan? Yuk simak bersama.

 1. Sampah 
v  Pengertian sampah  
Sampah adalah barang yang dibuang,  yang sudah tidak terpakai lagi: seperti daun kering kertas bekas dan sebagainya (kbbi)  

v  Permasalahan sampah 
Tagline membuang sampah pada tempatnya untuk saat ini sepertinya sudah  kurang relevan untuk diterapkan,  karena sekarang ini di Indonesia prilaku  individual dan kelompok,  mulai dari hilir ke hulu lah yang harus di perbaiki  dengan segera.  Naif rasanya jika sampah yang kita masukan ke tempat sampah  lalu diambil oleh petugas sampah,  dan ternyata bukan di buang ke TPA sampah  tapi hanya di biarkan di tanah lapang misalnya.  Atau sekolah sekolah yang  membagi 3 tempat sampah untuk berbagi jenis sampah,  lalu diangkut oleh  tukang sampah dalam satu bak sampah,  ironis kan? Menurut CNN  Indonesia permasalahan sampah kita sudah akut,  bahkan kronis,  jika tidak  dengan baik, maka harus menurunkan militer dalam kasus ini.  Sepasukan  tentara misalnya yang sering mengajak warga ikut serta membersihkan sungai dari sampah plastik dan stereofoam, namun tak pernah bersih,  karena aliran air  dari hulu selalu membawa sampah plastik nya lagi. 


c. Alur sampah
Rumah – bak sampah – tukang sampah – tempat pembuangan sementara – tempat pembuangan akhir (ideal)
Sampah dijalan – masuk sungai – masuk laut (yang banyak saat ini).

d. Macam - macam sampah 
Jenis sampah
v  Biodegradable (Bahan organik yang mampu diuraikan) / organik
§  Kemasan dari kertas
§  Tissue kering
§  Kertas
§  Daun kering
§  Ampas kopi & teh
§  Sisa bahan makanan

v  Non- biodegradable/ anorganik
§  Sampah popok dan pembalut
§  Peralatan makan plastik
§  Kemasan plastik
§  Kaleng alumunium
§  Botol kaca dan plastik
§  Sedotan plastik

Pembagian sampah an-organik
v  Plastik kemasan
v  Plastik air mineral
v  Keratas dan kardus tanpa plastik
v  Elektronik
v  Kain
v  Sampah yang tidak bisa dikonpos & tidak punya nilai jual

Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Adalah limbah yang mengandung bahan berbahaya atau racun yang karena sifat atau konsentrasinya atau jumblahnya, baik secara langsung atau tidak langsung dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia.
Menurut UU RI No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, sampah B3 merupakan sampah spesifik yang meliputi:
v  Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun
v  Sampah yang mengandung limbah B3
v  Sampah yang timbul akibat bencana
v  Bongkaran puing bangunan
v  Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah
v  Sampah yang timbul secara periodik.

f. Contoh permasalahan di pantai Belitung dan Ancol 
Sampah di pantai belitung, lautan belitung yang indah dengan batu besar-besar yang kita lihat di film Laskar Pelangi penuh sampah saat saya datangi di pertengahan bulan Januari saat saya bulan madu kesana, dan masyarakat membenarkan malah terbiasa katanya, nanti menunggu angin laut habis, kami warga pesisir gotong royong bersihkan pantai cerita tour guide saya saat itu. Hal ini akan berlangsung terus menerus disaat angin laut ke darat membawa sampah yang entah dari mana datangnya.
Agustus lalu Pandu Laut Nusantara (komunitas pecinta laut) melakukan bersih-bersih pantai Ancol dan mengacak Andien turut serta dalam kegiatan tersebut, terkumpul 2,85 Ton sampah dalam satu titik pantai, yakni Ancol bagian timur. Jenis sampahnya beragam, sebagian sampah plastik dan kain (detik.com).

2. Zerowaste 
Bebas sampah, atau Zerowaste dalam bahasa Inggris adalah mendorong perancangan ulang daur sumberdaya, dari sistem linier menuju siklus tertutup, sehingga semua prodak digunakan kembali. Tidak ada sampah yang dikirim ke TPA dan insinerator atau teknologi terminal lainnya. Proses terbaik adalah meniru bagaimana sumberdaya didaur ulang secara alami. (wikipeda.org).

a. 3R (Reduce,  Reuse,  Recycle)
Reuse = menggunakan kembali sampah yang masih bisa dipakai untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya
Reduce = mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah
Recylce = mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau prodak baru yang bermanfaat.
Ada juga Upcyle = mendaur ulang dengan menambah fungsi sampah menjadi bernilai jual

b. sampah di Singapura dan Taiwan 
Cerita tentang kebersihan, keteraturan dan betapa tertib nya negara itu ternyata bukan isapan jempol semata, selama 3 hari disana saya merasakan hal itu ditambah cerita dari penduduk lokal. Tour guide kami yang sebelumnya bercerita bahwa ada turis Malaysia yang beliau bawa, membuang sampah sembarangan karena mengira tidak ada petugas didekatnya, namun tak lama punggungnya ditepuk pria berpakaian safari yang menunjukan kartu identitas sebagai polisi, maka terkena lah denda $300 atau setara Rp 3,000,000 lumayan banget kan? Nah kalau coba-coba nyogok sipetugas, kita bisa kena denda 2x lipat alias $600 jadi mendingan buang sampah pada tempatnya saja. Negara bebas sampah, yang saya ingat dalam liburan saya kesana, kemana sampah di Singapura berakhir? Semua sampah dikumpulkan dan dibakar, hasil panasnya merupakan sumer energi listriknya, sudah 30 tahun mereka tidak pernah merasakan pemadaman. Sisa pembakarannya dibuat pulau yang indah, pulau yang asri dan tidak berbahaya karena sisa pembakaran tadi. Tau dari mana? Mereka menebar karang dan ikan sebagai indikator ambang batas limbah mereka, dan koral disana ternyata tumbuh subur.

Lain lagi yang saya tonton di National Geografic Chanel dalam edisi sampah di Taiwan, negara kecil yang hampir tenggelam karena sampah mereka sendiri. Lalu timbulah inovasi untuk menggunakan gas dari sambah sebagai sumber daya hingga saat ini. Caranya bukan dengan pembakaran seperti Singapura, tapi dengan cara mengumpulkan sampah si satu lahan luas bertahun tahun, kemudian menutupnya dengan tanah, yang kelak akan diolah gas nya sebagai pembangkit energi. (NatGeo Channel).

c. Zerowaste di Indonesia 
Pemerintah Indonesia menargetkan terkait pengelolaan sampah, yaitu dapat mengurangi sampah hingga 30% dan pengelolaan sampah hingga 70% pada tahun 2025. Karenanya dikeluarkan Peraturan Presiden NO 18/2017 tentang kebijaksanaan dan strategi nasional pengelolaan. Walaupun masih jauh dari zerowaste tapi Indonesia tetap harus mulai mengejar ketertinggalan penggunaan sampah menjadi energi seperti di negara lain, karena hal ini telah sukses di terapkan di Amerika, Australia, Swedia dan Singapura. Menurut Guru besar Pengelolaan Udara dan Limbah ITB target pemerintah kita sangat tinggi. Pasalnya sebagian besar sampah plasti (sekitar 80%) belum dikelola dengan baik. Dari 100% sampah plastik hanya 20% yang mau diambil pemulung untuk bisa dijual dan di daur ulang, namun 80% sisanya dikemanakan? Laut, Sungai atau dikibur dan sebagainya (bisnis.com).

3. Zerowaste dari rumah 
Apa saja yang bisa dilakukan untuk mensukseskan gerakan Zerowaste dari dalam rumah?
v  Lakukan dari yang paling mudah
v  Kurangi konsumsi kantong plastik
v  Simpan sampahmu sendiri
v  Bawa tas belanja
v  Bawa botol plastic
v  Buat kompos
v  3R di rumah


Pernah dibawakan sebagai materi siaran
Tema: Belajar Zerowaste Dari Rumah 
Waktu : 5 September 2018
Tempat : Harmony FM
Oleh : Devy Yuniar dan Merry Megawati